Definisi Linguistik
Kata linguistik (linguistics-Inggris) berasal dari bahasa Latin“lingua” yang
berarti bahasa. Dalam bahasa Perancis “langage-langue” ; Italia “lingua” ;
Spanyol “lengua” dan Inggris “language”. Akhiran “ics” dalam
linguistics berfungsi untuk menunjukkan nama sebuah ilmu, yang bererti ilmu
tentang bahasa, sebagaimana istilah economics, physics dan lain-lain.
Linguistik ialah suatu sains yang mengkaji bahasa (Abdullah
Hassan, 1984: 2)
Linguistik ialah pengkajian sains mengenai bahasa karena linguistik memenuhi syarat yang diperlukan seperti pengkajian sains yang lain. Mengkaji struktur dalam bahasa seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikologi, atau gabungan sub-disiplin itu seperti morfologi- sintaksis dan leksiko- semantik.
Linguistik ialah pengkajian sains mengenai bahasa karena linguistik memenuhi syarat yang diperlukan seperti pengkajian sains yang lain. Mengkaji struktur dalam bahasa seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikologi, atau gabungan sub-disiplin itu seperti morfologi- sintaksis dan leksiko- semantik.
Ø Fonologi : ciri bunyi bahasa, cara terjadi
dan fungsinya dalam sistem kebahasaan. Fonologi bersinonim dengan fonemik.
Ø Morfologi : struktur kata,
bahagiannya dan cara pembentukannya.
Ø Sintaksis : hubungan antara satu dengan
lain, dan cara penyusunannya hingga menjadi
satu ujaran.
Ø Semantik : makna bahasa ada yang
bersifat leksikal, gramatik atupun konteks.
Ø Leksikologi : leksikon atau kosakata
suatu bahasa dari berbagai aspek.
A. Cabang-Cabang Linguistik
Linguistik sebagai sebuah ilmu yang membahas kebahasaan memilik berbagai cabang lagi. Mulanya memang lingusitik dikaitkan dengan ilmu filsafat. Namun, setelah para ahli menemukan bahwa “berpikir” itu memang ada dalam bahasa, linguistik kemudian berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu kebahasaan.
Linguistik sebagai sebuah ilmu yang membahas kebahasaan memilik berbagai cabang lagi. Mulanya memang lingusitik dikaitkan dengan ilmu filsafat. Namun, setelah para ahli menemukan bahwa “berpikir” itu memang ada dalam bahasa, linguistik kemudian berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu kebahasaan.
Berikut ini kami coba uraikan
sejumlah cabang linguistik yang disarikan dari beberapa buku.
1.
Linguistik
Deskriptif (descriptive linguitics)
·
Kajian
struktur bahasa
·
Ilmu-ilmu
yang merupakan intinya: fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis.
2.
Linguistik
Historis (historical linguistics)
·
Kajian
sejarah perkembangan bahasa dari masa awalnya sampai dengan sekarang.
3.
Sosiolinguistik
·
Bahasa
tentang keregaman bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat.
4.
Psikolinguistik
·
Kajian
proses pemerolehan bahasa pada anak; dari segi perkembangan bahasanya yang
ditinjau dari psikologi.
5.
Linguistik
Terapan (applied lingistik)
·
Kajian
bagaimana menerapkan hasil-hasil temuan linguistik atau konsep-konsep
linguistik dalam pengajaran bahasa.
6.
Linguistik
Perbandingan (comparative linguistics)
·
Bahasan
bagaimana melakukan kajian komparatif antara dua bahasa, biasanya dua bahasa
tersebut berasal dari satu rumpun.
7.
Linguistik
Antropologi (antropological linguistic)
·
Kajian
bahasa dalam rangka penelitian antropologi untuk memahami kebudayaan bangsa
yang memakai bahasa tersebut.
Deskriptif adalah uraian berdasarkan
penginderaan (lihat, dengar, rasa, raba, cium).
B. Defenisi Leksikologi
Leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang
satuannya disebut leksem. Leksikologi mengarah pada kata yang sudah jadi, baik
yang terbentuk secara arbitrer, maupun yang terbentuk sebagai hasil proses
morfologi. Dalam hal simantik, leksikologi membicarakan makna leksikal dengan
berbagai aspek dan permasalahannya.(Chaer,2008:6)
Leksikologi mempelajari seluk-beluk kata, ialah
mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian
kata serta arti seperti dipakai oleh masysrakat pemakai bahasa
(Ramlan,1983:17). Misalnya kata masak, kata ini memiliki berbagai arti
dalam pemakaiannya, seperti dijelaskan dalam kamus sebagai berikut :
1.
‘sudah sampai tua hingga boleh dipetik,
dimakan, dsb’.
Misalnya : belum masak
juga ubi ini.
2.
‘sudah jadi’
Misalnya : Meskipun
sudah sejam direbus, belum masak juga ubi ini.
3.
‘sudah selesai, sudah dipikir’
Misalnya : Bangsa kita
diangapnya belum masak.
4.
‘mengolah, membuat panganan’
Misalnya
: masak kue lapis
Selanjutnya diterangkan pula arti kata bentukan dari
kata tersebut, kata masak-memasak berarti ‘hal atau urusan
memasak makanan, dsb’, memasakkan artinya ‘memasak untuk orang
lain’; mungkin juga berarti ‘menjadikan masak’, masakan berarti ‘barang
apa yang dimasak, seperti lauk-pauk, makanan, dsb’, pemasak berarti
‘orang yang memasak’ mungkin juga berarti ‘alat untuk memasak’.
C. Definisi Semantik
Istilah ‘semantik’ berasal dari
perkataan Yunani ‘semantickos’ yang bermaksud ‘penting; berarti’.
Semantik ialah cabang linguistik
yang akan membahas erti atau makna (J.W.M. Verhar, 1996).
Semantik merupakan bidang studi
linguistik yang objek penelitiannya makna bahasa (Abdul Chaer,1994).
Kajian tentang makna perkataan dan
penambahan makna sesuatu kata. (Kamus Dewan, 1997: 1228)
Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari
bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda)
yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda
linguistik (Perancis : signé
linguistique).
Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda
lingustik terdiri dari : 1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa. 2) Komponen yang diartikan
atau makna dari komopnen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang,
dan sedangkan yang ditandai atau
dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang
lazim disebut sebagai referent / acuan / hal yang
ditunjuk.
Jadi, Ilmu Semantik adalah :
Ilmu
yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya.
Ilmu
tentang makna atau arti.
A.
Batasan Ilmu Semantik
Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam
studi ingustik daripada istilah untuk ilmu makna
lainnya,seperti Semiotika, semiologi,
semasiologi,sememik, dansemik. Ini dikarenakan istilah-istilah yang lainnya
itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalulintas,
morse, tanda matematika, dan juga tanda-tanda yang lain
sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna
atau
Arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat
komunikasi verbal.
B.
Hubungan Semantik dengan Tataran Ilmu
Sosial lain
Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain,
semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki
hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga
dengan filsafat dan psikologi.
1. Semantik
dan Sosiologi
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai
kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan
sesuatu dapat menandai identitas kelompok penuturnya.
Contohnya
:
Penggunaan
/ pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan identitas kelompok penuturnya.
Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata
‘wanita’ terkesan lebih sopan, dan identik dengan
kelompok orang tua yang mengedepankan kesopanan.
2. Semantik
dan Antropologi.
Semantik dianggap berkepentingan dengan antropologi dikarenakan
analisis makna pada sebuah bahasa, menalui pilihan kata
yang dipakai penuturnya, akan dapat menjanjikan klasifikasi
praktis tentang kehidupan budaya penuturnya.
Contohnya
:
Penggunaan
/ pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti ‘lapar’ dapat mencerminkan
budaya penuturnya.
Karena
kata ‘ngelih’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat Jogjakarta.
Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.
Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.
Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik
dan memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat
penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat digunakan untuk menganalisi bahasa lain.
Contohnya
penutur bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggris yang mewakili nasi, beras, gabah dan padi.
Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam
masing-masing konteks yang berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau
padi.
Tentu saja penutur bahasa Inggris hanya
mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras, gabah, dan
padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah, beras
dan nasi, seperti bangsa Indonesia.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah
adanya kenyataan bahwa tidak selalu penanda dan
referent-nya memiliki hubungan satu lawan satu. Yang artinya, setiap tanda
lingustik tidak selalu hanya memiliki satu makna.
Adakalanya,
satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih. Dan
sebaliknya, dua tanda lingustik, dapat memiliki satu acuan yang sama.
Hubungan
tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :
Bisa
‘racun’
‘dapat’
buku
‘lembar
kertas berjilid’
kitab
kategori
Peran
semantik
gramatika
D. Definisi Pragmatik
Para pakar
pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3),
misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji
makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang
yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang
dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang
mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang
terlibat dalam percakapan tertentu.
Thomas (1995:
2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian,
pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik
dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan
sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance
interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa
pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara
dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan
makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan
pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in
interaction).
Leech
(1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian
dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia
sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik;
pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan
komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang
saling melengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar