Halaman

Selasa, 24 Desember 2013

Definisi Linguistik



Definisi Linguistik
Kata linguistik (linguistics-Inggris) berasal dari bahasa Latin“lingua” yang berarti bahasa. Dalam bahasa Perancis “langage-langue” ; Italia “lingua” ; Spanyol “lengua” dan Inggris “language”. Akhiran “ics” dalam linguistics berfungsi untuk menunjukkan nama sebuah ilmu, yang bererti ilmu tentang bahasa, sebagaimana istilah economics, physics dan lain-lain.
Linguistik ialah suatu sains yang mengkaji bahasa (Abdullah Hassan, 1984: 2)
Linguistik ialah pengkajian sains mengenai bahasa karena linguistik memenuhi syarat yang diperlukan seperti pengkajian sains yang lain. Mengkaji struktur dalam bahasa seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikologi, atau gabungan sub-disiplin itu seperti morfologi- sintaksis dan leksiko- semantik. 

Ø Fonologi : ciri bunyi bahasa, cara terjadi dan fungsinya dalam sistem kebahasaan. Fonologi bersinonim dengan fonemik.
Ø Morfologi : struktur kata, bahagiannya dan cara pembentukannya.
Ø Sintaksis : hubungan antara satu dengan  lain, dan cara penyusunannya hingga menjadi satu ujaran.
Ø Semantik : makna bahasa ada yang bersifat leksikal, gramatik atupun konteks.
Ø Leksikologi : leksikon atau kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek.

A.   Cabang-Cabang Linguistik 
    Linguistik sebagai sebuah ilmu yang membahas kebahasaan memilik berbagai cabang lagi. Mulanya memang lingusitik dikaitkan dengan ilmu filsafat. Namun, setelah para ahli menemukan bahwa “berpikir” itu memang ada dalam bahasa, linguistik kemudian berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu kebahasaan.
Berikut ini kami coba uraikan sejumlah cabang linguistik yang disarikan dari beberapa buku.
1.      Linguistik Deskriptif (descriptive linguitics)
·         Kajian struktur bahasa
·         Ilmu-ilmu yang merupakan intinya: fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis.
2.      Linguistik Historis (historical linguistics)
·         Kajian sejarah perkembangan bahasa dari masa awalnya sampai dengan sekarang.
3.      Sosiolinguistik
·         Bahasa tentang keregaman bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat.
4.      Psikolinguistik
·         Kajian proses pemerolehan bahasa pada anak; dari segi perkembangan bahasanya yang ditinjau dari psikologi.
5.      Linguistik Terapan (applied lingistik)
·         Kajian bagaimana menerapkan hasil-hasil temuan linguistik atau konsep-konsep linguistik dalam pengajaran bahasa.
6.      Linguistik Perbandingan (comparative linguistics)
·         Bahasan bagaimana melakukan kajian komparatif antara dua bahasa, biasanya dua bahasa tersebut berasal dari satu rumpun.
7.      Linguistik Antropologi (antropological linguistic)
·         Kajian bahasa dalam rangka penelitian antropologi untuk memahami kebudayaan bangsa yang memakai bahasa tersebut.
Deskriptif adalah uraian berdasarkan penginderaan (lihat, dengar, rasa, raba, cium).

B.     Defenisi Leksikologi
Leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang satuannya disebut leksem. Leksikologi mengarah pada kata yang sudah jadi, baik yang terbentuk secara arbitrer, maupun yang terbentuk sebagai hasil proses morfologi. Dalam hal simantik, leksikologi membicarakan makna leksikal dengan berbagai aspek dan permasalahannya.(Chaer,2008:6)
Leksikologi mempelajari seluk-beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta arti seperti dipakai oleh masysrakat pemakai bahasa (Ramlan,1983:17). Misalnya kata masak, kata ini memiliki berbagai arti dalam pemakaiannya, seperti dijelaskan dalam kamus sebagai berikut :
1.      ‘sudah sampai tua hingga boleh dipetik, dimakan, dsb’.
Misalnya : belum masak juga ubi ini.
2.      ‘sudah jadi’
Misalnya : Meskipun sudah sejam direbus, belum masak juga ubi ini.
3.      ‘sudah selesai, sudah dipikir’
Misalnya : Bangsa kita diangapnya belum masak.
4.      ‘mengolah, membuat panganan’
Misalnya : masak kue lapis
Selanjutnya diterangkan pula arti kata bentukan dari kata tersebut, kata masak-memasak berarti ‘hal atau urusan memasak makanan, dsb’, memasakkan  artinya ‘memasak untuk orang lain’; mungkin juga berarti ‘menjadikan masak’, masakan berarti ‘barang apa yang dimasak, seperti lauk-pauk, makanan, dsb’,  pemasak berarti ‘orang yang memasak’ mungkin juga berarti ‘alat untuk memasak’.

C.    Definisi Semantik
Istilah ‘semantik’ berasal dari perkataan Yunani ‘semantickos’ yang bermaksud ‘penting; berarti’.
Semantik ialah cabang linguistik yang akan membahas erti atau makna (J.W.M. Verhar, 1996).
Semantik merupakan bidang studi linguistik yang objek penelitiannya makna bahasa (Abdul Chaer,1994).
Kajian tentang makna perkataan dan penambahan makna sesuatu kata. (Kamus Dewan, 1997: 1228)
Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).
Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik terdiri dari : 1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa. 2) Komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent / acuan / hal yang ditunjuk.
Jadi, Ilmu Semantik adalah :
Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
      ditandainya.
Ilmu tentang makna atau arti.


A.    Batasan Ilmu Semantik
Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam studi ingustik daripada istilah untuk ilmu makna lainnya,seperti Semiotika, semiologi, semasiologi,sememik, dansemik. Ini dikarenakan istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalulintas, morse, tanda matematika, dan juga tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atau
Arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
B.     Hubungan Semantik dengan Tataran Ilmu Sosial lain
Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga dengan filsafat dan psikologi.
1.      Semantik dan Sosiologi
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas kelompok penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan identitas kelompok penuturnya.
Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan lebih sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankan kesopanan.
2.      Semantik dan Antropologi.
Semantik dianggap berkepentingan dengan antropologi dikarenakan analisis makna pada sebuah bahasa, menalui pilihan kata yang dipakai penuturnya, akan dapat menjanjikan klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti ‘lapar’ dapat mencerminkan budaya penuturnya.
Karena kata ‘ngelih’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat Jogjakarta.
Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.
Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat digunakan untuk menganalisi bahasa lain.
Contohnya penutur bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggris  yang mewakili nasi, beras, gabah dan padi.
Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam masing-masing konteks yang berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau padi.
Tentu saja penutur bahasa Inggris hanya mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras, gabah, dan padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah, beras dan nasi, seperti bangsa Indonesia.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu penanda dan referent-nya memiliki hubungan satu lawan satu. Yang artinya, setiap tanda lingustik tidak selalu hanya memiliki satu makna.
Adakalanya, satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih. Dan sebaliknya, dua tanda lingustik, dapat memiliki satu acuan yang sama.
Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :
Bisa
‘racun’
‘dapat’
buku
‘lembar kertas berjilid’
kitab
kategori
Peran
semantik gramatika



D.  Definisi Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar