A. CABANG- CABANG LINGUISTIK
1.
Morfologi
Morfologi dipakai oleh berbagai cabang ilmu.
Secara harafiah, morfologi berarti 'pengetahuan tentang bentuk' (morphos).
Berikut beberapa ilmu yang menggunakan nama morfologi:
·
Morfologi
(biologi),
ilmu tentang bentuk organisme, terutama hewan dan tumbuhan dan mencakup bagian-bagiannya.
·
Dalam linguistik,
sintaksis (dari Yunani Kuno:
συν- syn-, "bersama", dan τάξις táxis,
"pengaturan") adalah ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk
membuat kalimat
dalam bahasa alami.
Selain aturan ini, kata sintaksis juga digunakan untuk merujuk langsung
pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun,
sebagaimana "sintaksis
Irlandia Modern."
·
Penelitian modern dalam
sintaks bertujuan untuk menjelaskan
bahasa dalam aturan ini. Banyak pakar
sintaksis berusaha menemukan aturan umum
yang diterapkan pada setiap bahasa alami. Kata sintaksis juga kadang
digunakan untuk merujuk pada aturan yang mengatur sistem matematika, seperti logika,
bahasa formal buatan, dan bahasa pemrograman komputer.
Morfologi atau tata kata adalah
cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk pembentukan kata. Morfologi
mengkaji seluk-beluk morfem, bagaimana mengenali sebuah morfem, dan bagaimana
morfem berproses membentuk kata.
Morfem adalah bentuk bahasa yang
dapat dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat
dipotong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi begitu seterusnya sampai ke
bentuk yang jika dipotong lagi tidak mempunyai makna. Morfem yang dapat berdiri
sendiri dinamakan morfem bebas, sedangkan morfem yang melekat pada bentuk lain
dinamakan morfem terikat.
Alomorf adalah bentuk-bentuk
realisasi yang berlainan dari morfem yang sama. Morf adalah sebuah bentuk yang
belum diketahui statusnya. Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau
bukan, harus dibandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan
bentuk-bentuk lain. Morfem utuh yaitu morfem yang merupakan satu kesatuan yang
utuh. Morfem terbagi yaitu morfem yang merupakan dua bagian yang terpisah atau
terbagi karena disisipi oleh morfem lain.
Kata adalah satuan gramatikal bebas
yang terkecil. Kata dapat berwujud dasar yaitu terdiri atas satu morfem dan ada
kata yang berafiks. Kata secara umum dapat diklasifikasikan menjadi lima
kelompok yaitu verba, adjektiva, averbia, nomina, dan kata tugas. Dalam bahasa
Indonesia kita kenal ada proses morfologis; afiksasi, reduplikasi, komposisi,
abreviasi, metanalisis, dan derivasi balik. Afiksasi adalah proses yang
mengubah leksem menjadi kata kompleks. Di dalam bahasa Indonesia dikenal
jenis-jenis afiks yang dapat diklasifikasikan menjadi prefiks, infiks, sufiks,
simulfiks, konfiks, dan kombinasi afiks.
Reduplikasi merupakan pengulangan
bentuk. Ada 3 macam jenis reduplikasi, yaitu reduplikasi fonologis, reduplikasi
morfemis, dan reduplikasi sintaktis. Reduplikasi juga dapat dibagi atas:
dwipurwa, dwilingga, dwilingga salin swara, dwiwasana, dan trilingga.
Pemajemukan atau komposisi adalah
proses penghubungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata. Secara empiris
ciri-ciri pembeda kata majemuk dari frasa adalah ketaktersisipan,
ketakterluasan, dan ketakterbalikan. Abreviasi
adalah proses penggalangan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi
leksem sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata. Istilah lain untuk
abreviasi ialah pemendekan, sedangkan hasil prosesnya disebut kependekan.
Bentuk kependekan itu dapat dibagi atas singkatan, penggalan, akronim,
kontraksi, dan lambang huruf, Derivasi
balik adalah proses pembentukan kata berdasarkan pola-pola yang ada tanpa
mengenal unsur-unsurnya.
2. Fonologi
Menurut
Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam
linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Fonologi
mempunyai dua cabang kajian. Pertama, fonetik yaitu
cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa
direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja
organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. Chaer
(2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis
fonetik, yaitu:
·
fonetik artikulatoris atau fonetik
organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat
bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana
bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.
·
fonetik akustik mempelajari
bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu
diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya.
·
fonetik auditoris mempelajari bagaimana
mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.
Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling
berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik
inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu
dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan
dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.
Kedua, fonemik yaitu kesatuan bunyi
terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Chaer (2007) mengatakan
bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna
kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u]
jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l]
dan bunyi [r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi
tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan
fonem /r/.
Kedudukan Fonologi dalam Cabang-cabang Linguistik
Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis
bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh
cabang-cabang linguitik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dan semantik.
·
Fonologi dalam cabang Morfologi
Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata
sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem
dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta
diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan
morfem sufiks {-kan}.
·
Fonologi dalam cabang Sintaksis
Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika
berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu
berdiri? (kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah)
ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi
mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan
memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan
tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama
dalam bahasa Indonesia.
·
Fonologi dalam cabang Semantik
Bidang semantik, yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun
memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata
dapat divariasikan, dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras]
akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika
diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan
makna. Hasil analisis fonologislah yang membantunya.
Manfaat Fonologi dalam Penyusunan Bahasa
Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu
bahasa. Karena bunyi ujar adalah dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental,
ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana
melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga
bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan
kalimat, bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama
orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsure
suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada,
durasi, jedah dan intonasi. Perlambangan unsure suprasegmental ini dikenal
dengan istilah tanda baca atau pungtuasi.
Tata cara penulisan bunyi ujar ini bias memanfaatkan hasil kajian
fonologi,terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh
karena itu, hasil kajian fonemik terhahadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis.
Secara etimologi,
sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti dengan dan tattein
yang berarti menempatkan. Jadi, sintaksis berarti menempatkan bersama-sama
kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Dalam setiap
bahasa ada seperangkat kaidah yang sangat menentukan apakah kata-kata yang
ditempatkan bersama-sama tersebut akan berterima atau tidak. Perangkat kaidah
ini sering disebut sebagai alat-alat sintaksis, yaitu urutan kata, bentuk kata,
intonasi, dan konektor yang biasanya berupa konjungsi.
Keunikan setiap
bahasa berhubungan dengan alat-alat sintaksis ini. Ada bahasa yang lebih
mementingkan urutan kata daripada bentuk kata. Ada pula bahasa yang lebih
mementingkan intonasi daripada bentuk kata. Bahasa Latin sangat mementingkan
bentuk kata daripada urutan kata. Sebaliknya, bahasa Indonesia lebih
mementingkan urutan kata.
3.
Sintaksis
Sintaksis memiliki unsur-unsur
pembentuk yang disebut dengan istilah satuan sintaksis. Satuan tersebut adalah
kata, frase, klausa, dan kalimat. Pembahasan kata dalam tataran sintaksis
berbeda dengan pembahasan kata pada tataran morfologi. Dalam tataran sintaksis,
kata merupakan satuan terkecil yang membentuk frase, klausa, dan kalimat. Oleh
karena itu kata sangat berperan penting dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi
sintaksis, penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai satuan-satuan
sintaksis. Kata dapat dibedakan atas dua klasifikasi yaitu kata penuh dan kata
tugas.
Frase biasa didefinisikan sebagai
satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak memiliki
unsur predikat. Unsur-unsur yang membentuk frase adalah morfem bebas. Berdasarkan
bentuknya, frase dapat dibedakan atas frase eksosentrik, frase endosentrik, dan
frase koordinatif.
Klausa adalah satuan sintaksis
berbentuk rangkaian kata-kata yang berkonstruksi predikatif. Di dalam klausa
ada kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat. Selain itu, ada pula kata
atau frase yang berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan. Kalimat adalah
satuan sintaksis yang terdiri dari konstituen dasar, yang biasanya berupa
klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan dan disertai intonasi
final.
Analisis Sintaksis
Struktur kalimat dapat dianalisis
dari tiga segi, yaitu segi fungsi, kategori, dan peran semantis. Berdasarkan
segi fungsi, struktur kalimat dapat terdiri atas unsur subjek, predikat, objek,
pelengkap, dan keterangan. Subjek biasanya didefinisikan sebagai sesuatu yang
menjadi pokok, dasar, atau hal yang ingin dikemukakan oleh pembicara atau
penulis. Predikat adalah pernyataan mengenai subjek atau hal yang berhubungan
dengan subjek. Setelah predikat, biasanya diletakkan objek. Keberadaan objek
sangat tergantung pada predikatnya. Jika predikatnya berbentuk verba transitif
maka akan muncul objek. Namun, jika predikatnya berbentuk verba intransitif
maka yang akan muncul kemudian adalah pelengkap. Unsur selanjutnya adalah
keterangan, yaitu unsur kalimat yang berisi informasi tambahan. Informasi
tersebut biasanya berhubungan dengan tempat, waktu, cara, dan sebagainya.
Kalimat dapat pula dianalisis
berdasarkan kategorinya. Dalam tata bahasa tradisional, istilah kategori sering
disebut dengan istilah kelas kata. Dalam bahasa Indonesia ada empat kategori
sintaksis utama, yaitu: (a) Nomina atau kata benda, (b) Verba atau kata kerja,
(c) Ajektiva atau kata sifat, dan (d) Adverbia atau kata keterangan. Analisis
yang ketiga adalah analisis sintaksis dari segi peran. Analisis ini berhubungan
dengan semantis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar