Halaman

Selasa, 24 Desember 2013

PERKEMBANGAN ALIRAN- ALIRAN LINGUISTIK DALAM LINGIUSTIK TRADISIONAL


Studi linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan, yaitu
·   Spekulasi yaitu pernyataan-pernyataan tentang bahasa yang tidak didasarkan pada data empiris melainkan pada dongeng/rekaan belaka.
·  Klasifikasi dan Observasi yaitu mengadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki.
·    Perumusan teori yaitu pembuatan teori-teorinya.
Dalam sejarah perkembangannya linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran paham, pendekatan, dan teknik penyelidikan yang sangat ruwet. Berikut ini akan dibicarakan sejarah, perkembangan, paham, dan beberapa aliran linguistik dari zaman purba sampai zaman mutakhir sekarang ini.

LINGUISTIK TRADISIONAL
Linguistik tradisional sering dipertentangkan dengan tata bahasa struktural, bedanya
tata bahasa tradisional menganalisis bahasa pada filsafat dan semantik sedangkan tata
bahasa struktural menganalisis berdasarkan struktur/ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu. Bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional akan dibicarakan berikut ini:

A.    Zaman Yunani (abad ke 2-5 SM)
Yang menjadi pertentangan saat itu adalah:
-          fisis dan nomos. Bersifat fisis maksudnya bahasa itu mempuyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri dan nomos berarti konvensional artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/kebiasaan.
-          Pertentangan analogi dan anomali. Kaum analogi (Plato dan Aristoteles) berpendapat bahwa bahasa bersifat teratur, analogi sejalan dengan kaum naturalis, sedangkan anomaly berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Kaum anomali sejalan dengan kaum konvensional.
Kaum/Tokoh linguistik pada zaman yunani yaitu:
1.      Kaum Sophis (abad ke 5 SM)
Mereka dikenal karena mereka melakukan kerjasama secara empiris dengan menggunakan ukuran tertentu, mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa, membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna. Tokohnya yaitu Protogoras yang membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimt perintah, kalimat tanya jawab, kalimat laporan, doa, dan undangan.
2.    Plato (429-347 SM)
Plato memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya ”Dialog”. Dia juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan konvensional. Dia menyodorkan batasan bahasa yang intinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perencanaan anomata dan rhemata.
3.      Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles membagi kata dalam 3 bentuk,yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi.
Syndesmoi merupakan kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Syndesmoi hampir sama dengan preposisi dan konjungsi.
4.      Kaum Stoik (abad ke 4 SM)
Kaum Stoik membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secaratata bahasa, menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa, membedakan 3 komponen utana dalam studi bahasa, yaitu: tanda/simbol,makna, dan hal-hal di luar bahasa,yakni benda-benda/situasi
5.      Kaum Alexanrian
Kaum ini menganut paham analogi dalam studi bahasa dan menghasilkan buku tata bahasa yang disebut Tata Bahasa Dyonisis Thrax dan diterjemahkan oleh Remmius Pallemon dengan judul Ars Grammatik.
B.     Zaman Romawi
Zaman Romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yaitu Varro dengan karyanya, ”De Lingua Latina” dan Priscia denan karyanya, ”Institutiones Grammaticae. Varro dalam bukunya membahas masalah analogi dan anomali  eperti pada zaman Stoik di Yunani. Sedangkan Priscia, karyanya merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya. Teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Segi yang dibicarakan dalam bukunya yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis. 
C.    Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Hal-hal yang dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain:
1.      Kaum Modistae
Mereka menerima analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat regular dan universal. Mereka memperhatikan secara penuh akan semantik sebagai penyebutan definisi bentuk-bentuk bahasa. Mereka mencara sumber makna sehingga bidang etimologi saat iti berkembang.
2.      Tata Bahasa Spekulativa
Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skolastik.
3.      Petrus Hispanus
Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa,membedakan nomen atas 2 macam, yaitu nomen sibtantivim dan nomen akjektivum, dan juga membedakan semua bentuk yang menjadi subjek/predikat, dan bentuk tutur lainnya.

D.    Zaman Renaisans
Zaman renaisanse dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa, ada 2 hal pada zaman reinasanse yang menonjol, yaitu:
·       Sarjana-sarjana pada waktu itu menguasai bahasa latin, Ibrani, dan Arab.
·       Bahasa Eropa juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasaan, penyusunan tata bahasa, dan perbandingan.

E.  Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Ferdinand De Saussure dianggap sebagai bapak linguistuk modern. Diawali dengan pernyataan Sir William tentang adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin, dan bahasa Jerman telah membuka babak baru sejarah linguistik, yakni dengan berkembangnya studi linguistik bandingan serta studi mengenai hakekat bahasa secara linguistik terlepas dari masalah filsafat Yunani Kuno.

Aliran linguistik tradisional merupakan aliran tertua, namun karena ketaatannya pada kaidah menyebabkan aliran ini tetap eksis di zaman apapun.
Ciri-ciri aliran ini antara lain:
1.      Bertolak dari landasan pola pikir filsafat
2.      Pemerian bahasa secara historis
3.      Tidak membedakan bahasa dan tulisan. Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa dan tulisan sehingga secara otomatis mencampuradukkan pengertian bunyi dan huruf.
4.      Senang bermain dengan definisi.
5.      Hal ini karena pengaruh berpikir secara deduktif yaitu semua istilah didefinisikan baru diberi contoh alakadarnya.
6.      Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah.
7.      Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa tata bahasa yang cenderung menghakimi benar-salah pemakaian bahasa. Tata bahasa ini disebut juga tata bahasa normatif.
8.      Level-level gramatikal belum rapi, tataran yang dipakai hanya pada level huruf, kata, dan kalimat. Tataran morfem, frase, kalusa, dan wacana belum digarap.
9.      Dominasi pada permasalahan jenis kata
F.  Keunggulan Aliran Tradisional
Aliran tradisional memiliki beberapa keunggulan,yaitu:
1.   Lebih tahan lama karena bertolak dari pola pikir filsafat
2.   Keteraturan penggunaaan bahasa sangat dibanggakan karena berkiblat pada bahasa tulis baku
3.   Mampu menghasilkan generasi yang mempunyai kepandaian dalam menghafal istilah karena aliran ini sengan bermain dengan definisi
4.   Menjadikan para penganutnya memiliki pengetahuan tata bahasa kareana pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah
5.   Aliran ini memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan prinsip yang benar

G. Kelemahan Aliran Tradisional
Selain memiliki beberapa keunggulan, aliran tradisional juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
1.      Belum membedakan bahasa dan tulisan sehingga pengertian bahasa dan tulisan masih kacau
2.      Teori ini tidak menyajikan kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan.
3.      Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah sehingga meskipun pandai dalam teori bahasa tetapi tidak mahir dalam berbahasa di masyarakat.
4.      Level gramatikalnya belum rapi karena hanya ada tiga level yaitu huruf, kata, dan kalimat.
5.      Pemerian bahasa menggunakan pola bahasa Latin yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia
6.      Permasalahan tata bahasa masih banyak didominasi oleh permasalahan jenis kata (part of speech), sehingga ruang lingkup permasalahan masih sangat sempit.
7.      Pemerian bahasa berdasarkan bahasa tulis baku padahal bahasa tulis baku hanya sebagian dari ragam bahasa yang ada.
8.      Objek kajian hanya sampai level kalimat sehingga tidak komunikatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar