A.
Linguistik
Strukturalis
Strukturalisme
merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa
semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap.
Ciri khas strukturalisme
ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, Penyingkapan
sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan
antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme
menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan
timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040).
Linguistic strukturalis berusaha mendeskripsikan
suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa berbeda dengan Linguistik tradisional yang
bersifat perspektif yaitu berusaha mencari kebenaran suatu bahasa.
B.
Lahirnya
linguistik Struktural
Ferdinan De Sausure sebagai
pelopor strukturalisme, ternyata sejak dia remaja sudah menyenangi bahasa,
karyanya yang berangkat dari Lingusitik historis cukup membesarkan namanya.
Sebagai seorang filsuf yang predikat lulusnya magna cumlaude, maka sudah
sepantasnyalah membangun sebuah disiplin linguistik baru yang kemudian muncul
dengan nama Lingusitik Strukturalis. Hal itu berawal dari mengajar di
Universitas Paris sampai tahun 1891 yang mana spesifikasinya bahasa sanskerta
dan linguistik komperatif, kemudian mengajar linguistik umum sampai 22 Februari
1913, ternyata berdampak baik bagi perkembangan linguistik selanjutnya.
Alhasil, tiga seri kuliahnya tentang linguistik umum dikumpulkan oleh
mahasiswanya dan dibukukan kemudian lahirlah linguistik moderen itu (Sausure,
1988).
Hal-hal yang menarik perhatian terhadap pandangan Ferdinand de
Saussure
(1857-1913) adalah :
1)
Telaah
sinkronik (mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja) dan diakronik
(telaah bahasa sepanjang masa),
2)
Perbedaan
langue dan parloe. Lague yaitu keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai
alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya
abstrak. Sedangkan parloe sifatnya konkret karena parloe tidak lain daripada
realitas fisis yang berbeda dari yang satu dengan orang lain.
3)
Perbedaan
signifian dan signifie. Signifian adalah citra bunyi atau kesan
psikologis bunyi yang timbul dalam alam pikiran (bentuk), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita (makna).
psikologis bunyi yang timbul dalam alam pikiran (bentuk), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita (makna).
4)
Hubungan
sintagmatik dan paradigmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah
hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun
secara berurutan, bersifat linear
Hubungan paradigmatic
adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur
sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.
Aliran-aliran dalam Linguistik Sruktural :
A.
Aliran Praha
Sumbangan
aliran ini dalam bidang fonologis (mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam
suatu sistem) dan bidang sintaksis dengan menelaah kalimat melalui pendekatan
fungsional.
B.
Aliran Glosematik
Aliran
Glosematik lahiran Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev yang meneruskan ajaran
Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat
ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan
peralatan, metodologis, dan terminologis sendirian.
C.
Aliran Firthian
Nama
John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi. Fonologi
prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis.
D.
Linguistik
Sistemik
Pokok pandangan
aliran ini adalah:
1.
Memberikan
perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
2.
Memandang
bahasa sebagai pelaksana.
3.
Mengutamakan
pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya.
4.
Mengenal adanya
gradasi/kontinum.
5.
Menggambarkan
tiga tataran utama bahasa.
E.
Aliran Bloomfield
(aliran taksonomi)
Disebut aliran
Bloomfield karena bermula dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi
karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa
berdasarkan hubungan hierarkinya. Aliran ini dipelopori oleh Leonard Bloomfield
dan Strukturalis Amerika
F.
Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike
yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut aliran ini satuan dasar dari
sintaksis adalah tagmem (susunan). Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan
fungsi-fungsi saja. Seperti subjek + predikat + objek dan
tidak dapat dinyatakan dengan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda + frase kerja +frase benda. Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.
tidak dapat dinyatakan dengan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda + frase kerja +frase benda. Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.
Terjadi beberapa perkembangan dan penyimpangan strukturalisme yang
pada mulanya menerapakan pendirian Saussure, tapi sekarang sudah diterapkan
dalam bidang yang lain. Seperti yang dilakukan oleh Claude Levi-Strauss dengan
menuju penspesifikasian struktur tetap hubungan-hubungan yang, berdasar
hipotesis, di terima oleh semua manusia secara tidak sadar dan pra-reklektif.
Levi-Strauss menggunakan metode antropologi dan linguistik secara serempak.
Dalam penerapan metodenya ini kemiripan atau kesamaan berbagai macam mitos dan
adat-istiadat dalam pelbagai masyarakat, manusia dipandang sebagai porsi dari
struktur yang tidak “dikonstitusikan” oleh analisis itu melainkan “dilarutkan”
dengan analisis.
Jaques Lacan, pendiri mazhab
Freudian, mempergunakan perhatian strukturalis pada bahasa dengan dunia
bawah sadar manusia. Bagi Lacan, bahasa bukan saja alat yang memungkinkan
seseorang mampu menyelami dunia tak sadarnya, tetapi juga yang tidak sadar itu
sendiri “distruktur secara persis” sebagai suatu bahasa.
Lois Althusser memperluas
analisis strukturalis kearah pemikiran Karl Marx. Dalam percobaan ini
dilakukan usaha untuk memandang sejarah maupun ekonomi sebagai “tercaplok” di
dalam struktur-struktur. Sementara Roland Berthes menerapkan analisis
strukturalis pada kritik sastra. Dengan menganggap macam-macam gaya ekspresi
atau analisi sebagai “bahasa-bahasa yang berbeda-beda”, tugas kritik sastra
adalah tugas terjemahan.
Sedangkan Michel Foucault menerapkan strukturalisme pada
bidang filsafat. Menurutnya, tatanan kata-kata mengandung kunci bagi
pengertian, baik dalam filsafat maupun bidang lain, dan lebih penting disiplin
tatanan benda-benda.
Sudah jelas bahwasanya para tokoh strukturalisme menerapkan prinsip-prinsip
F. De saussure ke dalam bidang-bidang lain. Ada yang menerapkan
strukturalisme dalam antropologi budaya (Claude Levi-Straus), Jacques
Lacan menerapkan strukturalisme dalam bidang Psikoanalisa, Roland
Barthes menggunakan juga prinsip-prinsip Saussure dalam bidang
kritik sastra, serta Michel Foucault yang menggunakan strukturalisme
dalam bidang pengkajian epistemologi. Maka dapat di bilang aliran
strukturalisme mengalami kemajuan, awalnya hanya digunakan dalam bahasa saja..(
Saussure), namun oleh beberapa filsuf diterapkan atau digunakan dalam
beberapa bidang atau hal lain.
Linguistic
strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat
khas yang dimiliki bahasa itu.
a.
Ferdinand de Saussure (1857-1913)
Course de linguistic generalle
-
Telaah singkronik : mempelajari suatu bahasa
pada suatu kurun waktu tertentu
-
Telaah diakronik : telaah bahasa sepanjang
masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya
-
La language : keseluruhan system tanda yang
berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara anggota suatu masyarakat
bahasa, sifatnya abstrak.
-
La parole : pemakaian, realisasi langue,
sifatnya konkrit
-
Signifiat : Citra bunyi atau kesan psikologis
yang timbul dalam fikiran kita.
-
Signifie : pengertian atau kesan makna yang ada
dalam fikiran kita.
-
Hubungan sintagmatis: Hubungan antara unsure-
unsure yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan dan
bersifat linear.
b. Morfology (internal)
Menyangkut
struktur internal kata, contoh : kata “tertidur” kata ini terdiri atas dua
morfem yakni ter- dan tidur, kata ter tidak dapat berdiri sendiri. Jadi kata
ter-tidur mempunyai struktur internal dengan bagian-bagiannya.
Sintaksis
(eksternal)
Menyangkut
susunan kata dalam kalimat, contoh : “kami tidak dapat melihat pohon itu”. Tidak
dapat kita urutkan menjadi pohon itu dapat kami tidak melihat… maknanya menjadi
tidak jelas karena tidak ada struktur yang mengatur tiap kata.
c. Pragmatic
Pragmatic
merupakan cabang linguistic yang membahas tentang apa yang termasuk struktur
bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai
pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal- hal ekstralingual yang dibicarakan.
Contoh ; john
went home and had a snack
Disini ada dua
klausa : john went home dan john had a snack. Keduanya digabung menjadi kalimat
dan john sebagai subyek dihilangkan pada kalimat kedua.
d. Linguistic Singkronik dan Diakronik
Pada awal abad
ke – 19 hampir seluruh bidang linguistic merupakan linguistic historis,
khususnya menyangkut bahasa-bahasa Indo-Eropa. Yang diteliti pada zaman itu
adalah misalnya bagaimana bahasa yunani kuno dan bahasa latin menunjukkan
keserumpunan. Hal tersebut ditemukan berkat penelitian tentang bahasa
sangsekerta, pada abad itu pula diteliti bagaimana rumpun bahasa-bahasa
Germanik seperti german, Belanda, Inggris, dan bahasa Scandinavian saling
berhubungan secara historis. Dan bagaimana bahasa-bahasa Roman (seperti bahasa
prancis, bahasa oksidan, bahasa Spanyol, Portugis dll) diturungkan dari bahasa
latin.
Perkembangan-perkembangan tersebut diawali sebagai satu-satunya
upaya untuk mencari sebuah kebenaran dalam sosial-budaya ataupun ekonomi-politik.
Hal itu menandakan reformasi perkembangan dari satu periode ke dalam periode
lainnya, yang pada hal itu akan mendorong pelbagai perubahan baik dari
interaksi yang ada dalam sebuah polis ataupun kebudayaan dalam polis itu
sendiri. Strukturalisme mempunyai peran penting, sehingganya dapat membangun
sebuah peradaban, pembangunan, serta kontruk dalam cara mengatur atau
mengarahkah sebuah polis.
C.
Era Strukturalis
Isu-isu
pengajaran bahasa lebih menonjol pada masa menjulangnya linguistik struktural.
Linguistik struktural yang terkenal sejak perang dunia kedua dalam kaitannya
dengan program pengajaran bahasa memiliki 5 (lima) asumsi umum. Asumsi umum itu
terdiri atas: Pertama, bahwa prosedur kerja linguistik (struktural)
dapat digunakan sebagai metode pengajaran bahasa. Asumsi ini mengisyaratkan
kepada penekanan perlunya latihan berbicara dan menggunakan informan asli untuk
menirukan dan latihan lafal. Melalui latihan-latihan pasangan minimal siswa
berlatih membedakan fonem-fonem, dan berusaha menghasilkan fonem dalam cara
pasangan minimal, yang dapat dikenali penutur asli. Setelah itu siswa
mempelajari isyarat-isyarat gramatikal (morfem, kata tugas, urutan kata),
melalui berbagai-bagai latihan subtitusi dan perluasan dalam bentuk pola-pola
latihan (drill).
Kita dapat
mengidentifikasikan aspek-aspek aliran struktural yang berpengaruh dalam
pengajaran bahasa terutama metode audio-lingual. Terdapat penekanan yang lebih
besar terhadap berbicara dari pada menulis, dalam tahap awal metode
audio-lingual. Hal ini disadari oleh asumsi kedua yang menyatakan bahwa
materi pengajaran bahasa harus disajikan dalam bentuk latihan berbicara sebelum
siswa diperkenalkan dengan latihan menulis. Pada tahap awal keterampilan
berbahasa berbicara dan menyimak dianggap lebih penting, dan baru kemudian
membaca dan menulis.
Linguistik
struktural tidak terlalu memperhatikan makna. Dalam analisa bahasa, mereka
tidak membentuk-bentuk yang mirip. Oleh karena itu asumsi ketiga yang
disodorkan adalah bahwa tidaklah penting bagaimana makna itu diperoleh siswa.
Makna itu dapat ditanyakan saja langsung kepada penutur asli.
Asumsi yang keempat
menyatakan bahwa tidak perlu menyajikan gradasi dan urutan kekomplekan
gramatikal pada materi yang dipelajari siswa. Asumsi ini berdasarkan kepada
tesis dalam analisis struktural bahwa ahli bahasa hanya memiliki kontrol yang
sedikit terhadap kekomplekan data yang diperoleh dari informannya. Apabila ahli
bahasa itu menemukan data (ujaran) yang terlalu kompleks, cenderung menghindar
atau dipilih dari yang tidak komplek. Dalam pengajaran bahasa mereka
berpendapat bahwa struktur yang kompleks akan menyulitkan siswa dalam proses
memorinya.
Salah satu
alasan mengapa kaum strukturalis kurang memperhatikan makna dalam analisisnya,
karena mereka berpendapat bahwa makna ini bersifat abstrak, tidak dapat
diindra, dan makna ini hanya ada dalam pikiran, dan karena itu makna dianggap
pula bersifat subyektif. Ilmuwan mestilah mengamati fenomena dan baru
mempelajarinya. Tegasnya ilmuwan harus mempelajari apa yang bisa diamati. Sikap
yang demikian melahirkan asumsi yang kelima yang menyatakan bahwa bahasa itu
adalah tingkah laku dan tingkah laku dapat dipelajari dengan cara melakukan.
Karena itu siswa mempelajari bahasa dengan cara melakukan respon dalam
praktek-praktek latihan kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang
benar. Asumsi yang terakhir ini sesungguhnya hasil dari analisis kaum psikologi
behavioris. Oleh karena itu orang dapat mendiskusikan lebih lanjut tentang
tehnik pengajaran bahasa melalui respon dari penguatan ini.
Asumsi-asumsi
di atas terutama asumsi ketiga dan keempat banyak mengandung perdebatan di kalangan
guru bahasa, sedangkan asumsi yang kelima telah diserang langsung penganut tata
bahasa generatif.
D.
Mahdab Structural Amerika
Selama beberapa
tahun 1930-an sampai akhir tahun 1950-an aliran linguistic yang paling
berpengaruh adalah yang disebut struktrual, dan terutama dikaiteratkan dengan
linguis Amerika, dianggab sebagai fakta-fakta ilmu atas natural science
(Mackey:1965).
Kaum structural
Amerika beteguh hati untuk menemukan system yang menyeluruh dan dapat berdiri
sendiri dan mendahulukan yang penting dalam analisis, yang tidak dapat
dijelaskan secara objektif berarti “dinyatakan secara fisik ”. karena
bunyi-bunyi ujaran merupakan fenomena yang paling mudah untuk diamati langsung,
maka ujaran tersebut mendapat perhatian yang istimewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar