Halaman

Selasa, 24 Desember 2013

Linguistik Strukturalis



A.     Linguistik Strukturalis
Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap.
Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, Penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040).

Linguistic strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa  berbeda dengan Linguistik tradisional yang bersifat perspektif yaitu berusaha mencari kebenaran suatu bahasa.

B.     Lahirnya linguistik Struktural
Ferdinan De Sausure sebagai pelopor strukturalisme, ternyata sejak dia remaja sudah menyenangi bahasa, karyanya yang berangkat dari Lingusitik historis cukup membesarkan namanya. Sebagai seorang filsuf yang predikat lulusnya magna cumlaude, maka sudah sepantasnyalah membangun sebuah disiplin linguistik baru yang kemudian muncul dengan nama Lingusitik Strukturalis. Hal itu berawal dari mengajar di Universitas Paris sampai tahun 1891 yang mana spesifikasinya bahasa sanskerta dan linguistik komperatif, kemudian mengajar linguistik umum sampai 22 Februari 1913, ternyata berdampak baik bagi perkembangan linguistik selanjutnya. Alhasil, tiga seri kuliahnya tentang linguistik umum dikumpulkan oleh mahasiswanya dan dibukukan kemudian lahirlah linguistik moderen itu (Sausure, 1988).
Hal-hal yang menarik perhatian terhadap pandangan Ferdinand de Saussure
(1857-1913) adalah :
1)        Telaah sinkronik (mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja) dan diakronik (telaah bahasa sepanjang masa),
2)        Perbedaan langue dan parloe. Lague yaitu keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedangkan parloe sifatnya konkret karena parloe tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari yang satu dengan orang lain.
3)        Perbedaan signifian dan signifie. Signifian adalah citra bunyi atau kesan
psikologis bunyi yang timbul dalam alam pikiran (bentuk), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita (makna).
4)        Hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear
Hubungan paradigmatic adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

Aliran-aliran dalam Linguistik Sruktural :
A.      Aliran Praha
Sumbangan aliran ini dalam bidang fonologis (mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem) dan bidang sintaksis dengan menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional.
B.       Aliran Glosematik
Aliran Glosematik lahiran Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendirian.
C.       Aliran Firthian
Nama John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis.
D.      Linguistik Sistemik
Pokok pandangan aliran ini adalah:
1.        Memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
2.        Memandang bahasa sebagai pelaksana.
3.        Mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya.
4.        Mengenal adanya gradasi/kontinum.
5.        Menggambarkan tiga tataran utama bahasa.
E.       Aliran Bloomfield (aliran taksonomi)
Disebut aliran Bloomfield karena bermula dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya. Aliran ini dipelopori oleh Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
F.       Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (susunan). Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja. Seperti subjek + predikat + objek dan
tidak dapat dinyatakan dengan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda + frase kerja +frase benda. Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.

Terjadi beberapa perkembangan dan penyimpangan strukturalisme yang pada mulanya menerapakan pendirian Saussure, tapi sekarang sudah diterapkan dalam bidang yang lain. Seperti yang dilakukan oleh Claude Levi-Strauss dengan menuju penspesifikasian struktur tetap hubungan-hubungan yang, berdasar hipotesis, di terima oleh semua manusia secara tidak sadar dan pra-reklektif. Levi-Strauss menggunakan metode antropologi dan linguistik secara serempak. Dalam penerapan metodenya ini kemiripan atau kesamaan berbagai macam mitos dan adat-istiadat dalam pelbagai masyarakat, manusia dipandang sebagai porsi dari struktur yang tidak “dikonstitusikan” oleh analisis itu melainkan “dilarutkan” dengan analisis.
Jaques Lacan, pendiri mazhab Freudian, mempergunakan perhatian strukturalis pada bahasa dengan dunia bawah sadar manusia. Bagi Lacan, bahasa bukan saja alat yang memungkinkan seseorang mampu menyelami dunia tak sadarnya, tetapi juga yang tidak sadar itu sendiri “distruktur secara persis” sebagai suatu bahasa.
Lois Althusser memperluas analisis strukturalis kearah pemikiran Karl Marx. Dalam percobaan ini dilakukan usaha untuk memandang sejarah maupun ekonomi sebagai “tercaplok” di dalam struktur-struktur. Sementara Roland Berthes menerapkan analisis strukturalis pada kritik sastra. Dengan menganggap macam-macam gaya ekspresi atau analisi sebagai “bahasa-bahasa yang berbeda-beda”, tugas kritik sastra adalah tugas terjemahan.
Sedangkan Michel Foucault menerapkan strukturalisme pada bidang filsafat. Menurutnya, tatanan kata-kata mengandung kunci bagi pengertian, baik dalam filsafat maupun bidang lain, dan lebih penting disiplin tatanan benda-benda.
Sudah jelas bahwasanya para tokoh strukturalisme menerapkan prinsip-prinsip F. De saussure ke dalam bidang-bidang lain. Ada yang menerapkan strukturalisme dalam antropologi budaya (Claude Levi-Straus), Jacques Lacan menerapkan strukturalisme dalam bidang Psikoanalisa, Roland Barthes menggunakan juga prinsip-prinsip Saussure dalam bidang kritik sastra, serta Michel Foucault yang menggunakan strukturalisme dalam bidang pengkajian epistemologi. Maka dapat di bilang aliran strukturalisme mengalami kemajuan, awalnya hanya digunakan dalam bahasa saja..( Saussure), namun oleh beberapa filsuf diterapkan atau digunakan dalam beberapa bidang atau hal lain.
Linguistic strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu.

a.    Ferdinand de Saussure (1857-1913)
Course de linguistic generalle
-          Telaah singkronik : mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu
-          Telaah diakronik : telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya
-          La language : keseluruhan system tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak.
-          La parole : pemakaian, realisasi langue, sifatnya konkrit
-          Signifiat : Citra bunyi atau kesan psikologis yang timbul dalam fikiran kita.
-          Signifie : pengertian atau kesan makna yang ada dalam fikiran kita.
-          Hubungan sintagmatis: Hubungan antara unsure- unsure yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan dan bersifat linear.

b.  Morfology (internal)
Menyangkut struktur internal kata, contoh : kata “tertidur” kata ini terdiri atas dua morfem yakni ter- dan tidur, kata ter tidak dapat berdiri sendiri. Jadi kata ter-tidur mempunyai struktur internal dengan bagian-bagiannya.
Sintaksis (eksternal)
Menyangkut susunan kata dalam kalimat, contoh : “kami tidak dapat melihat pohon itu”. Tidak dapat kita urutkan menjadi pohon itu dapat kami tidak melihat… maknanya menjadi tidak jelas karena tidak ada struktur yang mengatur tiap kata.

c.  Pragmatic
Pragmatic merupakan cabang linguistic yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal- hal ekstralingual yang dibicarakan.
Contoh ; john went home and had a snack
Disini ada dua klausa : john went home dan john had a snack. Keduanya digabung menjadi kalimat dan john sebagai subyek dihilangkan pada kalimat kedua.

d.  Linguistic Singkronik dan Diakronik
Pada awal abad ke – 19 hampir seluruh bidang linguistic merupakan linguistic historis, khususnya menyangkut bahasa-bahasa Indo-Eropa. Yang diteliti pada zaman itu adalah misalnya bagaimana bahasa yunani kuno dan bahasa latin menunjukkan keserumpunan. Hal tersebut ditemukan berkat penelitian tentang bahasa sangsekerta, pada abad itu pula diteliti bagaimana rumpun bahasa-bahasa Germanik seperti german, Belanda, Inggris, dan bahasa Scandinavian saling berhubungan secara historis. Dan bagaimana bahasa-bahasa Roman (seperti bahasa prancis, bahasa oksidan, bahasa Spanyol, Portugis dll) diturungkan dari bahasa latin.
Perkembangan-perkembangan tersebut diawali sebagai satu-satunya upaya untuk mencari sebuah kebenaran dalam sosial-budaya ataupun ekonomi-politik. Hal itu menandakan reformasi perkembangan dari satu periode ke dalam periode lainnya, yang pada hal itu akan mendorong pelbagai perubahan baik dari interaksi yang ada dalam sebuah polis ataupun kebudayaan dalam polis itu sendiri. Strukturalisme mempunyai peran penting, sehingganya dapat membangun sebuah peradaban, pembangunan, serta kontruk dalam cara mengatur atau mengarahkah sebuah polis.

C.    Era Strukturalis
Isu-isu pengajaran bahasa lebih menonjol pada masa menjulangnya linguistik struktural. Linguistik struktural yang terkenal sejak perang dunia kedua dalam kaitannya dengan program pengajaran bahasa memiliki 5 (lima) asumsi umum. Asumsi umum itu terdiri atas: Pertama, bahwa prosedur kerja linguistik (struktural) dapat digunakan sebagai metode pengajaran bahasa. Asumsi ini mengisyaratkan kepada penekanan perlunya latihan berbicara dan menggunakan informan asli untuk menirukan dan latihan lafal. Melalui latihan-latihan pasangan minimal siswa berlatih membedakan fonem-fonem, dan berusaha menghasilkan fonem dalam cara pasangan minimal, yang dapat dikenali penutur asli. Setelah itu siswa mempelajari isyarat-isyarat gramatikal (morfem, kata tugas, urutan kata), melalui berbagai-bagai latihan subtitusi dan perluasan dalam bentuk pola-pola latihan (drill).
Kita dapat mengidentifikasikan aspek-aspek aliran struktural yang berpengaruh dalam pengajaran bahasa terutama metode audio-lingual. Terdapat penekanan yang lebih besar terhadap berbicara dari pada menulis, dalam tahap awal metode audio-lingual. Hal ini disadari oleh asumsi kedua yang menyatakan bahwa materi pengajaran bahasa harus disajikan dalam bentuk latihan berbicara sebelum siswa diperkenalkan dengan latihan menulis. Pada tahap awal keterampilan berbahasa berbicara dan menyimak dianggap lebih penting, dan baru kemudian membaca dan menulis.
Linguistik struktural tidak terlalu memperhatikan makna. Dalam analisa bahasa, mereka tidak membentuk-bentuk yang mirip. Oleh karena itu asumsi ketiga yang disodorkan adalah bahwa tidaklah penting bagaimana makna itu diperoleh siswa. Makna itu dapat ditanyakan saja langsung kepada penutur asli.
Asumsi yang keempat menyatakan bahwa tidak perlu menyajikan gradasi dan urutan kekomplekan gramatikal pada materi yang dipelajari siswa. Asumsi ini berdasarkan kepada tesis dalam analisis struktural bahwa ahli bahasa hanya memiliki kontrol yang sedikit terhadap kekomplekan data yang diperoleh dari informannya. Apabila ahli bahasa itu menemukan data (ujaran) yang terlalu kompleks, cenderung menghindar atau dipilih dari yang tidak komplek. Dalam pengajaran bahasa mereka berpendapat bahwa struktur yang kompleks akan menyulitkan siswa dalam proses memorinya.
Salah satu alasan mengapa kaum strukturalis kurang memperhatikan makna dalam analisisnya, karena mereka berpendapat bahwa makna ini bersifat abstrak, tidak dapat diindra, dan makna ini hanya ada dalam pikiran, dan karena itu makna dianggap pula bersifat subyektif. Ilmuwan mestilah mengamati fenomena dan baru mempelajarinya. Tegasnya ilmuwan harus mempelajari apa yang bisa diamati. Sikap yang demikian melahirkan asumsi yang kelima yang menyatakan bahwa bahasa itu adalah tingkah laku dan tingkah laku dapat dipelajari dengan cara melakukan. Karena itu siswa mempelajari bahasa dengan cara melakukan respon dalam praktek-praktek latihan kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang benar. Asumsi yang terakhir ini sesungguhnya hasil dari analisis kaum psikologi behavioris. Oleh karena itu orang dapat mendiskusikan lebih lanjut tentang tehnik pengajaran bahasa melalui respon dari penguatan ini.
Asumsi-asumsi di atas terutama asumsi ketiga dan keempat banyak mengandung perdebatan di kalangan guru bahasa, sedangkan asumsi yang kelima telah diserang langsung penganut tata bahasa generatif.

D.    Mahdab Structural Amerika
Selama beberapa tahun 1930-an sampai akhir tahun 1950-an aliran linguistic yang paling berpengaruh adalah yang disebut struktrual, dan terutama dikaiteratkan dengan linguis Amerika, dianggab sebagai fakta-fakta ilmu atas natural science (Mackey:1965).
Kaum structural Amerika beteguh hati untuk menemukan system yang menyeluruh dan dapat berdiri sendiri dan mendahulukan yang penting dalam analisis, yang tidak dapat dijelaskan secara objektif berarti “dinyatakan secara fisik ”. karena bunyi-bunyi ujaran merupakan fenomena yang paling mudah untuk diamati langsung, maka ujaran tersebut mendapat perhatian yang istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar