Halaman

Selasa, 24 Desember 2013

Subdisiplin Linguistik



1.      Subdisiplin Linguistik
Subdisiplin linguistik, meliputi:
a. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus. Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidahkaidah bahasa secara umum. Kajian umum dan khusus dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa/juga hanya pada satu bahasan dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi umum/khusus, morfologi umum/khusus ada sintaksis umum/khusus.

b. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik. Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Studi linguistik sinkronik biasa disebut juga linguistik deskriptif karena berupaya mendeskripsikan sesuatu. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas. Kajian ini biasanya bersifat historis dan komparatif.
c. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah struktur internal bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro. (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik). Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu/struktur internal bahasa pada umumnya.
 Subdisiplin mikrolinguistik meliputi:
Fonologi.  Menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa. Cara terjadinya dan fungsinya.
Morfologi. Menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya.
Sintaksis. Menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya.
Semantik. Menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual.
Leksikologi. Menyelidiki leksikon/kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek. Sedangkan subsdisiplin makrolinguistik meliputi:
Sosiolinguistik. Mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.
Antropolinguistik. Mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.
 Stilistika.  Mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.
Filologi. Mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bahasa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis.
Filsafat bahasa. Mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teori linguistik.
Dialektologi. Mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.  
Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan. Linguistik teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa/bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan factor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.
 Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistic transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistemik. Luasnya cabang linguistik, maka tidak ada yang menguasai semua cabang linguistik. Namun pada dasarnya ilmu linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa/cabang-cabang yang termasuk linguistik mikro.

2.       Struktur, Sistem dan Distribusi
Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat/konstituen kalimat secara linear. Sedangkan hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya disebut sistem. Jadi, fakta adanya bentuk kata kerja aktif dalam suatu bahasa menyangkut masalah sistem dalam bahasa tersebut. Fakta bahwa obyek selalu terletak di belakang predikat dalam bahasa Indonesia adalah struktur dalam bahasa Indonesia. Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi menurut Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika dengan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

3.      Analisis Bawahan Langsung
Analisis bawahan langsung/analisis unsur langsung/analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur konstituenkonstituen yang membangun suatu satuan bahasa, contoh satuan kata, satuan frase, satuan klausa/satuan kalimat. teknik analisis bawahan langsung berguna untuk menghindari keambiguan suatu kalimat.
Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur Analisis rangkaian unsur mengjarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk/ditata dari unsur-unsur lain. Dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . . .” bukan “dibentuk dari . . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan. Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.
1.      Manfaat Linguistik
Kita tidak dapat memahami karya sastra dengan baik tanpa mempunyai pengetahuan dan hakikat dan struktur bahasa dengan baik. bagi guru, terutama bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting. Bagi guru bidang studi juga penting karena dia harus menjelaskan mata pelajaran bidang studinya dengan bahasa. Bagi penejemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus/leksiko grafer menguasai semua aspek linguistic mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan member manfaat dalam menyelesaikan tugasnya dengan menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskan, dsb. Pengetahuan linguistik juga member manfaat bagi penyusun buku pelajaran/buku teks. Sebagai negarawan/ pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Linguistik termasuk juga psikolinguistik dan sosiolinguistik-membekal iguru tentang teori teori seputar hakikat bahasa, proses berbahasa, pemerolehan bahasa, penggunaan bahasa secar aktual dalam komunikasi sehari-hari dan lain-lain yang     bisa dijadikan asumsi dasar  atau panduan dalam menentukan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran bahasa termasuk didalamnya adalah pengorganisasian materi.
Linguistik membekali guru dengan kemampuan untuk menganalisis aspek-aspek bahasa(fonologi, morfologi, sintaksis, semantik) yang berguna dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan hambatan yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran bahasa.
Pada dasarya metodologi pengajaran bahasa adalah cabang linguistic terapan yang  menitik beratkan perhatiannya pada kemungkinan teori-teori linguistic dipakai, dimanfaatkan atau dipraktekkan dalam proses pembelajarn bahasa. Dalam bahasa JosDaniel Parera, ada istilah yang disebut“linguistic edukasional” yang diartikan sebagai suatu cabang linguistic terapan yang khusus menganalisis,  menerangkan dan menjelaskan tentang praktek pelaksanaan pengajaran bahasa yang berlandaskan teori-teori kebahasaan.
Idealnya, seorang guru bahasa (asing) adalah juga seorang linguis atau praktisi/penerap linguistic yang menguasai dengan baik bahasa siswa maupun bahasa asing yang diajarkannya dalam semua aspeknya.

2.      Hakikat Bahasa
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Lain halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12).
Menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Sementara Pengabean (1981:5), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Perkembangan ilmu linguistic yang begitu cepat membawa perubahan-perubahan mendasar yang berkenaan dengan pengajaran bahasa. Ini berarti linguistic sangat berperan dalam memberikan arahan tentang berbagai metode pengajaran bahasa Berdasarkan definisi bahasa dari Kridalaksana dan dari beberapa pakar lain maka dapat disebutkan ciri-ciri atau sifat yang hakiki dari suatu bahasa, ciri dan sifat itu antara lain sebagai berikut:
1.      Bahasa itu adalah sebuah system
Yaitu bahasa itu tersusun menurut suatu pola/aturan serta terdiri dari sub-sub sistem atau sistem bawahan.
2.      Bahawa berwujud lambang
Yaitu bahasa itu dilambangkan atau disampaikan dalam bentuk bunyi bahasa bukan dalam wujud yang lain yaitu berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
3.      Bahasa berupa bunyi
Yang dimaksud disini adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”
4.      Bahasa itu bersifat arbitrer
Yaitu tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa yang berwujud bunyi itu dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut
5.      Bahasa itu bermakna
Ditinjau dari fungsinya yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pemikiran. Jadi bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna yang disampaikan dalam bahasa apapun tidak bisa disebut sebagai bahasa.
6.      Bahasa itu bersifat unik
Setiap bahasa di dunia itu mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.
7.      Bahasa itu bersifat produktif
Unsur-unsur yang terkandung di dalam bahasa itu dapat dikembangkan menjadi satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas sesuai dengan sistem yang berlaku di dalam bahasa tersebut.
8.      Bahasa itu bersifat universal
Pada suatu bahasa yang ada di dunia ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa dan tentunya ciri-ciri itu adalah unsur bahasa yang paling umum.
9.      Bahasa itu variasi
Bahasa di dunia ini beragam dan bermacam-macam.
10.  Bahasa itu bersifat dinamis
Karena bahasa itu selalu berkaitan dengan semua kegiatan manusia dan kegiatan manusia itu selalu berubah hingga akhirnya bahasa juga ikut berubah menjadi tidak tetap, dan menjadi tidak statis tetapi dinamis.

11.  Bahasa sebagai alat interaksi social
Hal ini sesuai dengan fungsi bahasa itu sendiri sebagai alat komunikasi.

1.      Klasifikasi Bahasa
Klasifikasi bahasa itu dibedakan menjadi 4, yaitu:
1.      Klasifikasi genetis (geneologis)
Klasifikasi ini didasarkan pada garis keturunan suatu bahasa, artinya suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori ini suatu bahasa Proto (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih, lalu bahasa pecahan ini pun akan menurunkan pula bahasa-bahasa yang lain. Yang apabila digambarkan akan seperti batang pohon terbalik (A. Schleicher).
Kelompok bahasa yang termasuk ke dalam klasifikasi genetis, yaitu:
1) Rumpun Indo Eropa (bahasa-bahasa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik,Slavik, Roaman).
2) Rumpun Hamito Semit atau Afro – Asiatik
3) Rumpun Charil
4) Rumpun Dravida
5) Rumpun Austronesia
6) Rumpun Kaukasus
7) Rumpun Finno-Ugris
8) Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis
9) Rumpun Ural-Altai
10) Rumpun Sino-Tibet
11) Rumpun bahasa-bahasa Indian
Dari klasifikasi genetis ini dapat diketahui bahwa perkembangan bahasabahasa di dunia ini bersifat divergensif yaitu memerah dan menyebar menjadi banyak.
2.      Klasifikasi Tipologis
Klasifikasi tipologis ini didasarkan pada kesamaan tipe atau tipe-tipe terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa, unsur itu dapat mengenai bunyi, morfem, kata, frase, kalimat, dsb. Klasifikasi pada tataran morfologi dapat dibagi menjadi 3 kelompok
yaitu:
1) Kelompok I : yang menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi nya.
2) Kelompok II : yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.
3) Kelompok III: yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai  dasar klasifikasi.
3. Klasifikasi Areal
Klasifikasi areal ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868 – 1954) yang dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Yang terpenting yaitu adanya data pinjam-meminjam yang meliputi pinjaman bentuk apa saja dan arti apa saja.
3.      Klasifikasi Sosiolinguistik
Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang didasarkan pada hubungan antara bahasa dengan faktorfaktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan 4 ciri atau kriteria yaitu:
1. Historisitas : sejarah pemakaian/perkembangan suatu bahasa
2. Standardisasi : statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku atau dalam pemakaiannya yaitu formal/tidak formal.
3. Vitalitas : apakah merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara aktif atau tidak.
4. Homogenesitas: berkenaan dengan leksikan dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.
2.      Bahasa Tulis Dan Sistem Aksara
Dalam linguistik bahasa tulis adalah bahasa sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman akan tetapi bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar. Para ahli memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambargambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar-gambar itu berbentuk sederhana yang secara tidak langsung menyampaikan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar-gambar seperti itu disebut piktogram dan sebagai sistem tulisan disebut pictograf. Dalam kehidupan manusia aksara ternyata tidak hanya dipakai untuk keperluan menulis saja, tetapi telah berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi atau bisa diartikan sebagai seni menulis indah.

Jenis-jenis aksara antara lain:
1) Aksara Piktografis
2) Aksara Ideografis
3) Aksara Syabis
4) Aksara Fonemis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar