1.
Subdisiplin
Linguistik
Subdisiplin
linguistik, meliputi:
a. Berdasarkan objek
kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan
adanya linguistik umum dan linguistik khusus. Linguistik umum adalah linguistik
yang berusaha mengkaji kaidahkaidah bahasa secara umum. Kajian umum dan khusus
dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa/juga hanya pada satu bahasan
dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi
umum/khusus, morfologi umum/khusus ada sintaksis umum/khusus.
b. Berdasarkan obyek
kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu bahasa pada sepanjang masa dapat
dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik. Linguistik sinkronik
mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Studi linguistik sinkronik biasa
disebut juga linguistik deskriptif karena berupaya mendeskripsikan sesuatu.
Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas.
Kajian ini biasanya bersifat historis dan komparatif.
c. Berdasarkan obyek
kajiannya, apakah struktur internal bahasa itu dalam hubungannya dengan
faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik
makro. (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik).
Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa
tertentu/struktur internal bahasa pada umumnya.
Subdisiplin mikrolinguistik meliputi:
Fonologi.
Menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa. Cara
terjadinya dan fungsinya.
Morfologi. Menyelidiki
struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya.
Sintaksis. Menyelidiki
satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan
lainnya dan cara penyesuaiannya.
Semantik. Menyelidiki
makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual.
Leksikologi. Menyelidiki
leksikon/kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek. Sedangkan subsdisiplin
makrolinguistik meliputi:
Sosiolinguistik. Mempelajari
bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.
Antropolinguistik. Mempelajari
hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.
Stilistika. Mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk
karya sastra.
Filologi. Mempelajari
bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bahasa sebagaimana terdapat dalam
bahan-bahan tertulis.
Filsafat bahasa. Mempelajari
kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar
konseptual dan teori linguistik.
Dialektologi. Mempelajari
batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.
Berdasarkan
tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan
teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan
adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan. Linguistik teoritis berusaha
mengadakan penyelidikan terhadap bahasa/bahasa-bahasa, atau juga terhadap
hubungan bahasa dengan factor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan
kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.
Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan
dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik
struktural, linguistic transformasional, linguistik generatif semantik,
linguistik relasional dan linguistik sistemik. Luasnya cabang linguistik, maka
tidak ada yang menguasai semua cabang linguistik. Namun pada dasarnya ilmu
linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal
bahasa/cabang-cabang yang termasuk linguistik mikro.
2.
Struktur, Sistem dan Distribusi
Struktur
adalah susunan bagian-bagian kalimat/konstituen kalimat secara linear.
Sedangkan hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya
disebut sistem. Jadi, fakta adanya bentuk kata kerja aktif dalam suatu bahasa
menyangkut masalah sistem dalam bahasa tersebut. Fakta bahwa obyek selalu terletak
di belakang predikat dalam bahasa Indonesia adalah struktur dalam bahasa
Indonesia. Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi
menurut Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika dengan bukunya Language,
terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu
konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.
3.
Analisis
Bawahan Langsung
Analisis
bawahan langsung/analisis unsur langsung/analisis bawahan terdekat adalah suatu
teknik dalam menganalisis unsur-unsur konstituenkonstituen yang membangun suatu
satuan bahasa, contoh satuan kata, satuan frase, satuan klausa/satuan kalimat.
teknik analisis bawahan langsung berguna untuk menghindari keambiguan suatu
kalimat.
Analisis
Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur Analisis rangkaian unsur mengjarkan
bahwa setiap satuan bahasa dibentuk/ditata dari unsur-unsur lain. Dalam
analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . . .” bukan
“dibentuk dari . . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan. Analisis
proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu
proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi
ter- dengan dasar timbun.
1.
Manfaat
Linguistik
Kita
tidak dapat memahami karya sastra dengan baik tanpa mempunyai pengetahuan dan
hakikat dan struktur bahasa dengan baik. bagi guru, terutama bahasa,
pengetahuan linguistik sangat penting. Bagi guru bidang studi juga penting
karena dia harus menjelaskan mata pelajaran bidang studinya dengan bahasa. Bagi
penejemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan
dengan morfologi, sintaksis dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan
dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus/leksiko
grafer menguasai semua aspek linguistic mutlak diperlukan, sebab semua
pengetahuan linguistik akan member manfaat dalam menyelesaikan tugasnya dengan
menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskan, dsb. Pengetahuan linguistik
juga member manfaat bagi penyusun buku pelajaran/buku teks. Sebagai negarawan/
pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Linguistik termasuk juga psikolinguistik dan sosiolinguistik-membekal
iguru tentang teori teori seputar hakikat bahasa, proses berbahasa, pemerolehan
bahasa, penggunaan bahasa secar aktual dalam komunikasi sehari-hari dan lain-lain
yang bisa dijadikan asumsi dasar atau panduan dalam menentukan pendekatan,
metode dan teknik pembelajaran bahasa termasuk didalamnya adalah pengorganisasian
materi.
Linguistik membekali guru dengan kemampuan untuk menganalisis aspek-aspek
bahasa(fonologi, morfologi, sintaksis, semantik) yang berguna dalam mengantisipasi
berbagai kemungkinan hambatan yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran bahasa.
Pada dasarya metodologi pengajaran bahasa adalah cabang linguistic
terapan yang menitik beratkan perhatiannya
pada kemungkinan teori-teori linguistic dipakai, dimanfaatkan atau dipraktekkan
dalam proses pembelajarn bahasa. Dalam bahasa JosDaniel Parera, ada istilah yang
disebut“linguistic edukasional” yang diartikan sebagai suatu cabang linguistic terapan
yang khusus menganalisis, menerangkan dan
menjelaskan tentang praktek pelaksanaan pengajaran bahasa yang berlandaskan teori-teori
kebahasaan.
Idealnya, seorang guru bahasa (asing) adalah juga seorang linguis atau
praktisi/penerap linguistic yang menguasai dengan baik bahasa siswa maupun bahasa
asing yang diajarkannya dalam semua aspeknya.
2.
Hakikat Bahasa
Menurut
Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa.
Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota
masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua,
bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran)
yang bersifat arbitrer.
Lain
halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu
language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and
rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai
kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan
konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi
simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
Pendapat
di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4), beliau
memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang
sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah
seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Definisi
lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form
and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga
suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan
atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh
Mackey (1986:12).
Menurut
Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan
berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan
konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia
untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Hampir
senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa
ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan,
maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Sementara
Pengabean (1981:5), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang
mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Perkembangan ilmu linguistic yang begitu cepat membawa perubahan-perubahan
mendasar yang berkenaan dengan pengajaran bahasa. Ini berarti linguistic sangat
berperan dalam memberikan arahan tentang berbagai metode pengajaran bahasa
Berdasarkan definisi bahasa dari Kridalaksana dan dari beberapa pakar lain maka
dapat disebutkan ciri-ciri atau sifat yang hakiki dari suatu bahasa, ciri dan sifat
itu antara lain sebagai berikut:
1. Bahasa
itu adalah sebuah system
Yaitu
bahasa itu tersusun menurut suatu pola/aturan serta terdiri dari sub-sub sistem
atau sistem bawahan.
2. Bahawa
berwujud lambang
Yaitu
bahasa itu dilambangkan atau disampaikan dalam bentuk bunyi bahasa bukan dalam
wujud yang lain yaitu berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia.
3. Bahasa
berupa bunyi
Yang
dimaksud disini adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang
di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”
4. Bahasa
itu bersifat arbitrer
Yaitu
tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa yang berwujud bunyi itu dengan
konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut
5. Bahasa
itu bermakna
Ditinjau
dari fungsinya yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pemikiran. Jadi
bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna yang disampaikan dalam bahasa apapun
tidak bisa disebut sebagai bahasa.
6. Bahasa
itu bersifat unik
Setiap
bahasa di dunia itu mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh
bahasa lain.
7. Bahasa
itu bersifat produktif
Unsur-unsur
yang terkandung di dalam bahasa itu dapat dikembangkan menjadi satuan-satuan
bahasa yang jumlahnya tidak terbatas sesuai dengan sistem yang berlaku di dalam
bahasa tersebut.
8. Bahasa
itu bersifat universal
Pada
suatu bahasa yang ada di dunia ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap
bahasa dan tentunya ciri-ciri itu adalah unsur bahasa yang paling umum.
9. Bahasa
itu variasi
Bahasa
di dunia ini beragam dan bermacam-macam.
10. Bahasa
itu bersifat dinamis
Karena
bahasa itu selalu berkaitan dengan semua kegiatan manusia dan kegiatan manusia
itu selalu berubah hingga akhirnya bahasa juga ikut berubah menjadi tidak
tetap, dan menjadi tidak statis tetapi dinamis.
11. Bahasa
sebagai alat interaksi social
Hal
ini sesuai dengan fungsi bahasa itu sendiri sebagai alat komunikasi.
1. Klasifikasi
Bahasa
Klasifikasi
bahasa itu dibedakan menjadi 4, yaitu:
1. Klasifikasi
genetis (geneologis)
Klasifikasi
ini didasarkan pada garis keturunan suatu bahasa, artinya suatu bahasa berasal
atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori ini suatu bahasa
Proto (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru
atau lebih, lalu bahasa pecahan ini pun akan menurunkan pula bahasa-bahasa yang
lain. Yang apabila digambarkan akan seperti batang pohon terbalik (A.
Schleicher).
Kelompok
bahasa yang termasuk ke dalam klasifikasi genetis, yaitu:
1)
Rumpun Indo Eropa (bahasa-bahasa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik,Slavik,
Roaman).
2)
Rumpun Hamito Semit atau Afro – Asiatik
3)
Rumpun Charil
4)
Rumpun Dravida
5)
Rumpun Austronesia
6)
Rumpun Kaukasus
7)
Rumpun Finno-Ugris
8)
Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis
9)
Rumpun Ural-Altai
10)
Rumpun Sino-Tibet
11)
Rumpun bahasa-bahasa Indian
Dari
klasifikasi genetis ini dapat diketahui bahwa perkembangan bahasabahasa di dunia
ini bersifat divergensif yaitu memerah dan menyebar menjadi banyak.
2. Klasifikasi
Tipologis
Klasifikasi
tipologis ini didasarkan pada kesamaan tipe atau tipe-tipe terdapat pada
sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang
dalam suatu bahasa, unsur itu dapat mengenai bunyi, morfem, kata, frase,
kalimat, dsb. Klasifikasi pada tataran morfologi dapat dibagi menjadi 3
kelompok
yaitu:
1)
Kelompok I : yang menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi nya.
2)
Kelompok II : yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.
3)
Kelompok III: yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.
3.
Klasifikasi Areal
Klasifikasi areal ini pernah dilakukan
oleh Wilhelm Schmidt (1868 – 1954) yang dilakukan berdasarkan adanya hubungan
timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu
areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara
genetik atau tidak. Yang terpenting yaitu adanya data pinjam-meminjam yang
meliputi pinjaman bentuk apa saja dan arti apa saja.
3. Klasifikasi
Sosiolinguistik
Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah
dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang didasarkan pada hubungan
antara bahasa dengan faktorfaktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya
berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa
itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan 4 ciri atau kriteria yaitu:
1.
Historisitas : sejarah pemakaian/perkembangan suatu bahasa
2.
Standardisasi : statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku atau dalam pemakaiannya
yaitu formal/tidak formal.
3.
Vitalitas : apakah merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari
secara aktif atau tidak.
4.
Homogenesitas: berkenaan dengan leksikan dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.
2. Bahasa
Tulis Dan Sistem Aksara
Dalam linguistik bahasa tulis adalah
bahasa sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti
yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman
akan tetapi bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran,
sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk
terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar. Para
ahli memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambargambar yang
terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain.
Gambar-gambar itu berbentuk sederhana yang secara tidak langsung menyampaikan
maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar-gambar seperti itu disebut
piktogram dan sebagai sistem tulisan disebut pictograf. Dalam kehidupan manusia
aksara ternyata tidak hanya dipakai untuk keperluan menulis saja, tetapi telah
berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi atau bisa diartikan
sebagai seni menulis indah.
Jenis-jenis
aksara antara lain:
1)
Aksara Piktografis
2)
Aksara Ideografis
3)
Aksara Syabis
4)
Aksara Fonemis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar