Halaman

Selasa, 24 Desember 2013

Keilmiahan Linguistik dan Linguistik Sebagai Ilmu Pengetahuan yang Spesifik dan Empiris


Sebagaimana kita ketahui ada bermacam macam Ilmu Pengetahuan, dalam bermacam macam Ilmu pengetahuan tersebut bahasa dapat menjadi”Objek” penelitian. Kalau begitu apa yang menjadi Kekhususan ilmu linguistic? Ahli Linguistik berurusan dari bahasa sebagai bahasa, itulah objeknya. Jadi, ahli bahasa tidak berurusan dari bahsa sebagai alat pengungkap afeksi atau emosi, atau bahasa sebagai sifat khas ilmu social, atau bahasa sebagai alat prosedur pengadilan. Hal tersebut masing masing menjadi urusan ahli Psikologi, ahli Hukum, atau ahli Sosiologi, yang menjadi kekhususan Ilmu linguistic adalah bahasa sebagai bahasa. Dalam ilmu empiris peneliti menjauhkan diri dari kekayikan yang berdasarkan fakta. Tidaklah cukup jika ahli linguistic merasa bahwa salah satu bahasa di Irian adalah Primitif. Karena konsep Primitif tidak ada dasar empirisnya. Atau tidaklah cukup jika ahli linguistik merasa yakin bahwa setiap didunia mestinya memiliki ajektiva, karena hal seperti itu hanya dapat didasarkan atas dasar empiris saja.
Dalam banyak hal manusia mendasarkan diri atas keyakinan tertentu dan selayaknya begitu. Akan tetapi dalam ilmu empiris setiap keyakinan hanya didasarkan pada dasar empiris saja.
Pada bagian ini akan dibicarakan keilmiahan linguistik dengan segala persoalan yang berkaitan dengan  label “ilmiah”, untuk bisa memahami cara kerja ilmu ini di dalam operasinya.
a.     Keilmuan Linguistik
Pada dasarnya, setiap ilmu termasuk ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan sebagai berikut:
1. Tahap Spekulasi
Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Misalnya: anggapan bahwa bumi berbentuk datar.
2. Tahap Observasi dan Klasifikasi
Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Bahasa-bahasa di nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu dikelompokkan berdasarkan kesamaan cirri yang dimiliki bahasa-bahasa tersebut. Tahap seperti ini belum dapat dikatakan “ilmiah” sebab belum sampai pada penarikan suatu teori.
3. Tahap Adanya Perumusan Teori
Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalahmasalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada. Disiplin linguistik sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah karena sudah mengalami ketiga tahap di atas. Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksankan penelitiannya. Bidang semantik kurang mendapat perhatian dalam linguistik, strukturalis karena maknanya tidak dapat diamati secara empiris. Kegiatan linguistic juga tidak boleh “dikotori” oleh pengakuan/pengetahuan si peneliti. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris, menganalisis dan mengklasifikasinya. Lalu ditarik suatu kesimpulan. Dalam ilmu logika/ilmu menalar, selain adanya penalaran secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula dikumpulkan datadata khusus lalu ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif adalah sebaliknya. Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dai bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistic sering juga disebut sebagai ilmu nomotetik. Pendekatan bahasa sebagai bahasa sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa yang dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut: Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer. Sedangkan bahasa tulis hanya sekunder. Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaring-jaring hubungan. Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakaiannya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai suatu yang dinamis. Karena itu pula linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik (kurun waktu terbatas) dan secara diakronik (sepanjang kehidupan bahasa itu). Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar