Sebagaimana
kita ketahui ada bermacam macam Ilmu Pengetahuan, dalam bermacam macam Ilmu
pengetahuan tersebut bahasa dapat menjadi”Objek” penelitian. Kalau begitu apa
yang menjadi Kekhususan ilmu linguistic? Ahli Linguistik berurusan dari bahasa
sebagai bahasa, itulah objeknya. Jadi, ahli bahasa tidak berurusan dari bahsa
sebagai alat pengungkap afeksi atau emosi, atau bahasa sebagai sifat khas ilmu
social, atau bahasa sebagai alat prosedur pengadilan. Hal tersebut masing
masing menjadi urusan ahli Psikologi, ahli Hukum, atau ahli Sosiologi, yang
menjadi kekhususan Ilmu linguistic adalah bahasa sebagai bahasa. Dalam ilmu
empiris peneliti menjauhkan diri dari kekayikan yang berdasarkan fakta.
Tidaklah cukup jika ahli linguistic merasa bahwa salah satu bahasa di Irian
adalah Primitif. Karena konsep Primitif tidak ada dasar empirisnya. Atau tidaklah
cukup jika ahli linguistik merasa yakin bahwa setiap didunia mestinya memiliki
ajektiva, karena hal seperti itu hanya dapat didasarkan atas dasar empiris
saja.
Dalam
banyak hal manusia mendasarkan diri atas keyakinan tertentu dan selayaknya begitu.
Akan tetapi dalam ilmu empiris setiap keyakinan hanya didasarkan pada dasar
empiris saja.
Pada
bagian ini akan dibicarakan keilmiahan linguistik dengan segala persoalan yang
berkaitan dengan label “ilmiah”, untuk
bisa memahami cara kerja ilmu ini di dalam operasinya.
a. Keilmuan Linguistik
Pada
dasarnya, setiap ilmu termasuk ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap
perkembangan sebagai berikut:
1.
Tahap Spekulasi
Dalam
tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan
dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh
bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur
tertentu. Misalnya: anggapan bahwa bumi berbentuk datar.
2.
Tahap Observasi dan Klasifikasi
Pada
tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala
fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.
Bahasa-bahasa di nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu
dikelompokkan berdasarkan kesamaan cirri yang dimiliki bahasa-bahasa tersebut.
Tahap seperti ini belum dapat dikatakan “ilmiah” sebab belum sampai pada
penarikan suatu teori.
3.
Tahap Adanya Perumusan Teori
Pada
tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalahmasalah dasar dan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data
empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis dan menyusun tes untuk
menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada. Disiplin linguistik
sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah karena sudah
mengalami ketiga tahap di atas. Linguistik sangat mementingkan data empiris
dalam melaksankan penelitiannya. Bidang semantik kurang mendapat perhatian
dalam linguistik, strukturalis karena maknanya tidak dapat diamati secara
empiris. Kegiatan linguistic juga tidak boleh “dikotori” oleh
pengakuan/pengetahuan si peneliti. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara
induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya kegiatan itu dimulai dengan
mengumpulkan data empiris, menganalisis dan mengklasifikasinya. Lalu ditarik
suatu kesimpulan. Dalam ilmu logika/ilmu menalar, selain adanya penalaran
secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula
dikumpulkan datadata khusus lalu ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif
adalah sebaliknya. Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan
atau kaidah-kaidah yang hakiki dai bahasa yang ditelitinya. Karena itu,
linguistic sering juga disebut sebagai ilmu nomotetik. Pendekatan bahasa
sebagai bahasa sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa yang dapat dijabarkan
dalam sejumlah konsep sebagai berikut: Pertama, karena bahasa adalah bunyi
ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Bagi linguistik bahasa
lisan adalah yang primer. Sedangkan bahasa tulis hanya sekunder. Kedua, karena
bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka
suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Ketiga, karena bahasa adalah
suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur
yang satu dengan lainnya mempunyai jaring-jaring hubungan. Keempat, karena
bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan
sosial budaya masyarakat pemakaiannya, maka linguistik memperlakukan bahasa
sebagai suatu yang dinamis. Karena itu pula linguistik dapat mempelajari bahasa
secara sinkronik (kurun waktu terbatas) dan secara diakronik (sepanjang
kehidupan bahasa itu). Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik
mendekati bahasa dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh
seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti
seharusnya diungkapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar