Halaman

Sabtu, 21 Desember 2013

ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK DALAM ARTIAN TATA BAHASA MADZHAB FIRTHIAN DAN ALIRAN TAGMEMIK



1.  Tata bahasa Madzhab Firthian
Pada tahun (1890-1960) seorang guru besar pada Universitas London yang bernama John R. Firth telah mengemukakan sebuah teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, teori yang dikembangkannya tersebut kemudian dikenal dengan nama aliran Forosodi, tetapi disamping itu dikenal pula dengan nama aliran firth, atau aliran Firthian, atau aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk  menentukan arti pada  tataran fonetis. Dimana fonologi prosodi tersebut terdiri dari satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segemental yakni konsonan, vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal. Aliran London atau biasa juga disebut fonologi prosodi adalah  suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.
Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan. Fonem dapat dikaji dalam hubungannya dengan kata. Konteks fonologi terbatas pada bunyi-bunyi “dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan lain. Misalnya, bentuk kèpala dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.

 Arti atau makna menurut teori Firth adalah hubungan antara satu unsur pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Jadi, arti tiap kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu berikut ini :
1.    Hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).
2.    Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.     
3.    Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, clan hubungannya dengan kata itu.
4.    Jenis kalimat clan bagaimana kalimat itu digolongkan.
5.    Hubungan kalimat dengan konteks situasi.
Ada dua jenis perkembangan dalam ilmu linguistik yang selalu dikaitkan dengan Firth, yaitu :
(a)   teori konteks situasi untuk menentukan arti,
(b)   analisis prosodi dalam fonologi. Teori konteks situasi ini menjadi dasar teori linguistik Firth; beliau menolak setiap usaha untuk memisahkan bahasa dari konteksnya dalam kehidupan manusia dan budaya.
Firth menekankan bahwa makna merupakan jantung dari pengkajian bahasa. Semua analisis linguistik dan pernyataan-pernyataan tentang linguistik haruslah merupakan analisis dan pernyataan mengenai makna. Dalam hal ini beliau memperkenalkan dua kolokasi untuk menerangkan arti, yaitu arti gramatikal clan arti fonologis.
Arti Gramatikal adalah peranan dari unsur-unsur tata bahasa di dalam konteks gramatikal dari yang mendahului dan mengikuti unsur-unsur itu di dalam kata atau konstruksi (gagasan) dan dari unsur-unsur tata bahasa yang bersamaan di dalam paradigma-paradigma. Jadi, arti menurut kolokasi adalah abstraksi sintagmatik. Umpama dalam kalimat bahasa Inggris “She liked me”. Arti gramatikal liked adalah peranan atau hubungannya dengan she dan me; dan juga hubungannya dengan like dan likes pada tingkatan paradigmatik. Arti fonologi adalah peranan atau hubungan dari unsur-unsur fonologi di dalam konteks fonologi dari struktur suku-kata dan unsur-unsur lain yang bersamaan secara paradigmatik yang dapat berperanan dalam konteks yang serupa. Salah satu dimensi arti dari lima dimensi seperti yang disebutkan di atas adalah dimensi hubungan kata-kata; hal ini tidak boleh dipisahkan dari konteks situasi dan budaya. Arti satu tergantung dari kolokasi yang mungkin dari kata itu. Umpamanya, salah satu arti kata malam adalah kolokasinya dengan gelap, dan sebaliknya gelap berkolokasi dengan malam. Jadi, jelas arti sebuah kata ditentukan oleh konteks linguistiknya.
Sebagai linguis Firth dikenal juga sebagal tokoh analisis prosodi atau fonologi prosodi. Menurut Firth analisis prosodi dapat digunakan untuk menganalisis bahasa dan membuat pernyataan-pernyataan yang sistematis dari analisis ini yang didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap data bahasa serta menggunakan istilah-istilah dan kategori-­kategori yang sesuai. Analisis prosodi ini menganggap ada dua jenis fonologi, yaitu berikut ini :
1)        Unit-unit fonematik yang terdiri dari konsonan-konsonan segmental dan unsur-unsur vokal yang merupakan maujud-maujud yang dapat saling menggantikan dalam bermacam-macam posisi pada suku kata Yang berlainan.
2)        Prosodi-prosodi yang terdiri dari fitur-fitur atau milik-milik struktur Yang lebih panjang dari satu segmen, baik berupa perpanjangan fonetik, maupun sebagai pembatasan struktur secara fonologi, seperti suku kata atau kata. Prosodi-prosodi ini merupakan maujud yang menjadi ciri khas suku-suku kata secara keseluruhan, dan tidak dapat saling menggantikan.
Ke dalam perpanjangan fonetik ini termasuk semua fonem supra­segmental dari fitur-fitur seperti nasalisasi, glotalisasi, dan retrofleksi yang biasanya tidak diikutsertakan dalam analisis fonetik terutama analisis fonetik menurut linguistik struktural Amerika. Secara singkat bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan prosodi menurut teori Firth adalah struktur kata beserta ciri-ciri khas lagu kata itu sebagai sifat-sifat abstraksi tersendiri dalam keseluruhan fonologi bahasa itu. Jadi, yang termasuk ke dalam fitur-fitur prosodi satu kata adalah :
(1)   Jumlah suku kata
(2)   Hakikat suku katanya: terbuka atau tertutup
(3)   Kualitas suku-suku kata
(4)   Urutan suku-suku kata
(5)   Urutan bunyi-bunyi vokal
(6)   Tempat, hakikat, dan kuantitas bunyi-bunyi penting
(7)   Kualitas “gelap” atau “terang” dari suku-suku kata
(8)   Ciri-ciri hakiki lagu suku kata dan juga potongan kalimat tempat kata itu terdapat
(9)   Semua sifat yang menyangkut struktur suku kata, urutan suku kata, dan keharmonisan suku kata dalam kata, potongan kalimat, dan keseluruhan kalimat.
2.  Aliran tagmemik
Pada dasarnya aliran Tagmemik yang sebenarnya lahir tahun 1977 yang dipelopori oleh Prof.Kenneth Lee Pike yang berkebangsaaan Amerika bersamaan dengan terbitnya buku Gramatical Analysis. Sebagai seorang ilmuwan, Pike membaktikan dirinya di bidang penelitian dan pengembangan ilmu bahasa (Lembaga Bahasa Universitas Atma Jaya, 1987:71). Teori Tagmemik berkembang dari sebuah teori yang lebih komprehensif tentang bahasa dalam ruang lingkup perilaku manusia yang dikembangkan Pike antara tahun 1954-1960.

3.  Karakteristik teori tagmemik
1.   Teori Kesemestaan
Sebelumnya telah banyak ahli bahasa yang mengetengahkan teori kesemestaan, aliran Tagmemik pada dasarnya mengikuti juga teori kesemestaan yang beranggapan bahwa semua bahasa yang ada di dunia ini di samping memiliki ciri khasnya masing- masing juga memiliki ciri atrau karakter yang sama untuk semua bahasa. Atas dasar ini anggapan banyak orang bahwa aliran Tagmemik hanya dapat diterapkan untuk bahasa inggris dan bahasa- bahasa yang setipe dengannya dapat ditepis. Bahkan konsep kesemestaan dalam aliran Tagmemik tidak hanya terbatas dalam arti dapat diterapkan untuk semua bahasa tetapi juga dalam arti dapat diterapkan untuk bidang-bidang kehidupan di luar bahasa (Pike dan Pike, 1977:1).
2.    Sifat Eklektik
Aliran Tagmeik bersifat eklektik karena karena memang secara substansial aliran ini merupakan perpaduan dari aneka macam teori yang dirangkum menjadi satu. Karakteristik aliran linguistik tertentu dipilih dan ditempatkan secara proporsional sesuai dengan peran masing-masing. Karakteristik analisis fungsi pada teori Tradisional ditempatkan pada dimensi slot. Karakteristik analisis unsur langsung atas kategori gramatikal pada aliran Struktural dan analisis surface structure pada aliran Transformasi ditempatkan pada dimensi fillerclass. Karakteristik analisis peran pada Case Grammar ditempatkan pada dimensi role atau peran. Karakteristik hubungan antarunsur pada aliran Relasionalisme ditempatkan pada dimensi kohesi.
3.    Setiap Struktur Gramatik Terbangun atas Tagmem-Tagmem
Setiap struktrur gramatikal baik dalam tataran wacana, percakapan, dialog, monolog, paragraf, kalimat, klausa, frase, maupun kata terbangun atas tagmem- tagmem. Tagmem adalah suatu kesatuan, sejajar dengan fonem dan morfem dalam tri-hirarki ketatabahasaan fonologi, leksikon, dan tata bahasa. Ketiga kesatuan dasar itu diperlihatkan sebagai struktur tritunggal dalam karyanya yang berjudul “Language as Particle, Wave, and Field” pada tahun 1959 (Tarigan, 1989: 15-16). Pada garis besarnya, teori tagmemik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)   Slot
Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam struktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Di dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen berupa inti dan luar inti. Pada teori tradisional dan struktural, slot, kelas, peran, dan kohesi.
2)   Kelas
Kelas adalah suatu ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot itu adalah berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana. Kelas dapat dipecah lagi menjadi kelas yang lebih kecil (subkelas). Kelas frasa dapat dipecah menjadi frasa benda dan frasa kerja. Kelas klausa dapat dipecah menjadi klausa transitif, klausa intransitif, klausa ekauatif, dan sebagainya.
3)   Peran (Role)
Peran adalah ciri atau benda penanda yang merupakan pembawa fungsi tagmem. Memang agak susah untuk membedakan fungsi dan peran. Pelaku dan penderita adalah nama peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian ada subjek dengan peran penderita.
4)   Kohesi
Kohesi adalah ciri atau penanda tagmem yang merupakan pengontrol hubungan antartagmem. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa adalah kaidah ktransitifan pada kluasa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa instransitif dan klasa ekuatif (Soeparno, 2002: 60-66).

4.    Ciri Hierarkhi
Menurut teori ini ada tiga macam hierarki, yakni:
1)   Hierarki Referensial
Hierarki ini mengatur tata makna yang merentang dari makna lexical package (bungkus leksem), term (istilah), propoisition (proposisi), theme development (pengembangan tema), sampai ke sosial interaction (interaksi sosial). Makna bungkus leksem berada pada tataran morfem dan gugus morfem, makna istilah berada pada tataran kata dan frase, makna proposisi berada pada tataran klausa dan kalimat, makna pengembangan tema berada pada tataran paragraph dan monolog, sedangkan makna interaksi social berada pada tataran dialog dan percakapan.
2)   Hierarki Fonologikal
Hierarki ini mengatur tata bunyi dari satuan- satuan bunyi sampai ke suku kata. Yang termasuk dalam hierarki ini tekanan, nada, tempo, intonasi, dan jeda/ kesenyapan. Aliran Amerika memilah hierarki fonologikal ini menjadi dua kelompok, yakni sifat -emik dan sifat –etik. Kelompok yang sifatnya –emik dikaji dalam anak subdisiplin linguistikyang bernama fonemik, sedangkan yang bersifat etik dikaji dalam anak subdisiplin linguistik yang bernama fonetik.
3)   Hierarki Gramatikal
Ciri khas aliran Tagmemik dalam hal hierarki Gramatikal. Hierarki gramatikal pada aliran Tagmemik merentang dari morfem, kata, frase, klausa, kalimat, paragraf, monolog, dialog, percakapan, sampai wacana.
5.    Tatanan Normal dan Tak Normal
Hierarki gramatikal dalam aliran Tagmemik pada garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yakni tatanan normal (normal mapping) dan tatanan abnormal (abnormal mapping) yang meliputi level skipping, layering dan back looping.
1)   Tatanan Normal (Normal Mapping)
Tatanan normal adalah suatu urutan jenjang dalam struktu gramatikal yang unsur langsungnya memiliki tataran satu tingkat lebih rendah. Unsur langsung wacana adalah percakapan, unsur langsung percakapan berupa dialog berupa monolog, unsur langsung monolog berupa paragraph/ alinea, unsur langsung paragraph berupa kalimat, unsure langsung kalimat berupa klausa, unsur langsung klausa berupa frase, unsur langsung frase berupa kata, unsur langsung kata adalah morfem.
2)   Tatanan Tak Normal (Abnormal Mapping)
Tatanan tak normal merupakan tatanan yang tidak mengikuti kaidah atau aturan yang berlaku pada tatanan yang normal. Tatanan tak normal terdiri atas tiga jenis, yakni level skipping (loncatan tataran), layering (pelapisan), dan back looping (hierarki terputar).
1.    Level skipping (Loncatan Tataran)
Level skipping adalah suatu tatanan tak normal dalam hierarki gramatikal yng memiliki ciri bahwa unsur langsung suatu struktur gramatik tidak setingkat lebih rendah, tetapi beberapa tingkat lebih rendah.
2.    Layering (Pelapisan)
Layering adalah suatu tatanan tak normal dalam hierarki gramatikal yang memiliki ciri bahwa unsur langsung suatu struktur gramatik tidak satu tingkat lebih rendah, tetapi justru sama levelnya dengan struktur gramatik tersebut.
3.    Back Lopping (Hierarki terputar)
Back lopping adalah suatu tatanan tak normal dalam hierarki gramatikal yang memiliki ciri bahwa unsure suatu struktur gramatikal tidak satu tingkat lebih rendah, tetapi justru lebih tinggi levelnya dari struktur tersebut.
6.    Kalimat Tidak Memiliki Subjek dan Predikat
Pada aliran Tradisional dan beberapa aliran lain selalu menganalisis kalimat atas S-P, S-P-O, atau S-P-O-K. Hanya aliran tagmemiklah yang berani menyatakan dengan tegas bahwa slot S-P-O, maupuN K bukan pada tataran klausa. Slot subjek, predikat, objek, ataupun komplemen adalah slot yang diperuntukkan bagi suatu struktur gramatik yang hubungan antara tagmem- tagmem partisipannya berupa hubungan string dimana antara unsur yang satu tidak ada yang lebih penting dari yang lain atau membentuk suatu untaian. Itulah sebabnya klausa menduduki untaian yang istimewa di dalam aliran Tagmemik. Kalimat terdiri atas unsur-unsur yang berupa klausa. Hubungan antar klausa yang satu dengan yang lain tidak berupa hubungan string, tetapi berupa hubungan nucleus (inti) dan margin (luar inti), atau topic (pokok) dan comment (sebutan).

7.    Predikat Harus Berupa Kata Kerja/Frase Kerja
Menurut teori Tagmemik slot predikat harus diisi oleh klas kata kerja/ frase kata kerja tidak mungkin mengisi slot predikat. Dengan demikian tidak aka nada istilah kalimat nominal.
8.    Tidak Ada Batasan antara Morfologi dengan Sintaksis
Pada aliran Struktural bidang Morfologi dan Sintaksis dipisahkan secara tegas. Urusan kata dan morfem menjadi wilayah morfologi, sedangkan urusan frase, klausa, dan kalimat menjadi wilayah sintaksis. Pemisahan semacam ini ada kalanya dapat diterapkan tanpa ada masalah, tetapi adakalnya juga bermasalah.
9.    Analisis Dimulai dari Wacana
Aliran Struktural memulai analisisnya dari analisis kata (Nida, 1949), sedangkan aliran Transformasi memulai analisisnya dari kalimat (Chomsky, 1957). Aliran Tagmemik juga menganalisis kata dan menganalisi kalimat, tetapi titik awal analisisnya dimulai dari analisis wacana. Semua level gramatik menjadi bidang kajiannya yang merentang dari wacana sampai ke morfem. Tidak ada pemisahan bidang wacana, sintaksis, dan morfologi.
10.     Analisis Tagmemik
Analisis tagmemik menggunakan rumus-rumus dengan singkatan-singkatan istilah. Pada dasarnya istilah dan singkatan yang dipergunakan bebas, dapat menggunakan istilah asing, dapat juga menggunakan istilah Indonesia. Ketentuan yang harus dipatuhi ialah istilah yang dipakai harus konsisten.
11.     Pembedaan Ciri-Etik dan Ciri-Emik
Aliran Tagmemik mulai menegakkan eksistensi ciri –etik dan ciri-emik di dalam suatu struktur. Pembedaan ciri ini sudah mulai muncul pada aliran Struktural meski belum ditekankan. Ciri –etik adalah suatu ciri yang tidak membedakan, sedang ciri –emik adalah suatu ciri yang bersifat membedakan. Pada aliran Struktural terbatas pada pembedaan Fonetik dan Fonemik saja. Pada aliran Tagmemik penggunaan dan penerapan ciri-ciri tersebut lebih luas lagi sampai pada pembedaan ciri peran dan pembedaan tipe-tipe klausa.
12.     Ciri Etik dan Emik pada Tataran Klausa
Ciri –etik dan –emik pada tataran berdampak pada klasifikasi tipe klausa, yang secara garis besar dibedakan menjadi dua kategori yakni tipe klausa berdasarkan peran –etik dan tipe klausa berdasarkan peran –emik.

13.     Menyukai Analisis Bahasa yang Belum Dikenal
Aliran Tagmemik sangat tertarik untuk menganalisis bahasa yang belum dikenal. Analisis terhadap bahasa yang tidak dikenal atau sudah diketahui kaidahnya tidak begitu signifikan sebagai suatu temuan. Oleh karena itu para penguat alliran tagmemik rela berpayah-payah ke tempat yang jauh demi memburu bahasa yang belum pernah dijamah peneliti. Analisis biasanya dilakukan dengan melalui tahap-tahap :
1.    Pengumpulan data
2.    Klasifikasi data berdasarkan tipe dan jenis
3.    Penyusunan peta kerja, kadang-kadang disertai juga dengan diagaram pohon
4.    Pembuatan rumus utama
5.    Penyusunan rumus bawahan
6.    Pembacaan rumus
7.    Identifikasi klas morfem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar