1. Tata bahasa Madzhab Firthian
Pada tahun (1890-1960) seorang guru besar pada Universitas London yang
bernama John R. Firth telah mengemukakan sebuah teorinya mengenai fonologi
prosodi. Karena itulah, teori yang dikembangkannya tersebut kemudian dikenal
dengan nama aliran Forosodi, tetapi disamping itu dikenal pula dengan nama
aliran firth, atau aliran Firthian, atau aliran London. Fonologi prosodi adalah
suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Dimana
fonologi prosodi tersebut terdiri dari satuan-satuan fonematis berupa
unsur-unsur segemental yakni konsonan, vokal, sedangkan satuan prosodi berupa
ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen
tunggal. Aliran London atau biasa juga disebut fonologi prosodi adalah
suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Menurut Firth dalam
kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada
konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari
konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan
untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari
konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang
penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang
dapat dibedakan dan dianalisis.
Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu
tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi
unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan
morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah
kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik
adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada
tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Sedangkan tingkatan lain kurang
diperhatikan. Fonem dapat dikaji dalam hubungannya dengan kata. Konteks fonologi
terbatas pada bunyi-bunyi “dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang
meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan lain.
Misalnya, bentuk kèpala dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk
ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia.
Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu
tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi
bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.
Arti atau makna menurut teori Firth adalah hubungan antara satu unsur
pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Jadi,
arti tiap kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu berikut ini :
1.
Hubungan tiap fonem dengan konteks
fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).
2.
Hubungan kata-kata satu sama lain
dalam kalimat.
3.
Hubungan morfem pada satu kata
dengan morfem yang sama pada kata lain, clan hubungannya dengan kata itu.
4.
Jenis kalimat clan bagaimana
kalimat itu digolongkan.
5.
Hubungan kalimat dengan konteks
situasi.
Ada dua jenis perkembangan dalam ilmu linguistik yang selalu dikaitkan
dengan Firth, yaitu :
(a) teori
konteks situasi untuk menentukan arti,
(b) analisis
prosodi dalam fonologi. Teori konteks situasi ini menjadi dasar teori
linguistik Firth; beliau menolak setiap usaha untuk memisahkan bahasa dari
konteksnya dalam kehidupan manusia dan budaya.
Firth menekankan bahwa makna merupakan jantung dari pengkajian bahasa.
Semua analisis linguistik dan pernyataan-pernyataan tentang linguistik haruslah
merupakan analisis dan pernyataan mengenai makna. Dalam hal ini beliau
memperkenalkan dua kolokasi untuk menerangkan arti, yaitu arti gramatikal clan
arti fonologis.
Arti Gramatikal adalah peranan dari unsur-unsur tata bahasa di dalam
konteks gramatikal dari yang mendahului dan mengikuti unsur-unsur itu di dalam
kata atau konstruksi (gagasan) dan dari unsur-unsur tata bahasa yang bersamaan
di dalam paradigma-paradigma. Jadi, arti menurut kolokasi adalah abstraksi
sintagmatik. Umpama dalam kalimat bahasa Inggris “She liked me”. Arti
gramatikal liked adalah peranan atau hubungannya dengan she dan me; dan juga
hubungannya dengan like dan likes pada tingkatan paradigmatik. Arti fonologi
adalah peranan atau hubungan dari unsur-unsur fonologi di dalam konteks
fonologi dari struktur suku-kata dan unsur-unsur lain yang bersamaan secara
paradigmatik yang dapat berperanan dalam konteks yang serupa. Salah satu
dimensi arti dari lima dimensi seperti yang disebutkan di atas adalah dimensi
hubungan kata-kata; hal ini tidak boleh dipisahkan dari konteks situasi dan
budaya. Arti satu tergantung dari kolokasi yang mungkin dari kata itu.
Umpamanya, salah satu arti kata malam adalah kolokasinya dengan gelap, dan
sebaliknya gelap berkolokasi dengan malam. Jadi, jelas arti sebuah kata
ditentukan oleh konteks linguistiknya.
Sebagai linguis Firth dikenal juga sebagal tokoh analisis prosodi atau
fonologi prosodi. Menurut Firth analisis prosodi dapat digunakan untuk
menganalisis bahasa dan membuat pernyataan-pernyataan yang sistematis dari
analisis ini yang didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap data bahasa
serta menggunakan istilah-istilah dan kategori-kategori yang sesuai. Analisis
prosodi ini menganggap ada dua jenis fonologi, yaitu berikut ini :
1)
Unit-unit fonematik yang terdiri
dari konsonan-konsonan segmental dan unsur-unsur vokal yang merupakan
maujud-maujud yang dapat saling menggantikan dalam bermacam-macam posisi pada
suku kata Yang berlainan.
2)
Prosodi-prosodi yang terdiri dari
fitur-fitur atau milik-milik struktur Yang lebih panjang dari satu segmen, baik
berupa perpanjangan fonetik, maupun sebagai pembatasan struktur secara
fonologi, seperti suku kata atau kata. Prosodi-prosodi ini merupakan maujud
yang menjadi ciri khas suku-suku kata secara keseluruhan, dan tidak dapat
saling menggantikan.
Ke dalam perpanjangan fonetik ini termasuk semua fonem suprasegmental
dari fitur-fitur seperti nasalisasi, glotalisasi, dan retrofleksi yang biasanya
tidak diikutsertakan dalam analisis fonetik terutama analisis fonetik menurut
linguistik struktural Amerika. Secara singkat bisa disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan prosodi menurut teori Firth adalah struktur kata beserta
ciri-ciri khas lagu kata itu sebagai sifat-sifat abstraksi tersendiri dalam
keseluruhan fonologi bahasa itu. Jadi, yang termasuk ke dalam fitur-fitur
prosodi satu kata adalah :
(1) Jumlah
suku kata
(2) Hakikat
suku katanya: terbuka atau tertutup
(3) Kualitas
suku-suku kata
(4) Urutan
suku-suku kata
(5) Urutan
bunyi-bunyi vokal
(6) Tempat,
hakikat, dan kuantitas bunyi-bunyi penting
(7) Kualitas
“gelap” atau “terang” dari suku-suku kata
(8) Ciri-ciri
hakiki lagu suku kata dan juga potongan kalimat tempat kata itu terdapat
(9) Semua
sifat yang menyangkut struktur suku kata, urutan suku kata, dan keharmonisan
suku kata dalam kata, potongan kalimat, dan keseluruhan kalimat.
2. Aliran tagmemik
Pada dasarnya aliran Tagmemik yang sebenarnya lahir tahun 1977 yang
dipelopori oleh Prof.Kenneth Lee Pike yang berkebangsaaan Amerika bersamaan
dengan terbitnya buku Gramatical Analysis. Sebagai seorang ilmuwan, Pike
membaktikan dirinya di bidang penelitian dan pengembangan ilmu bahasa (Lembaga
Bahasa Universitas Atma Jaya, 1987:71). Teori Tagmemik berkembang dari sebuah
teori yang lebih komprehensif tentang bahasa dalam ruang lingkup perilaku
manusia yang dikembangkan Pike antara tahun 1954-1960.
3. Karakteristik
teori tagmemik
1. Teori
Kesemestaan
Sebelumnya
telah banyak ahli bahasa yang mengetengahkan teori kesemestaan, aliran Tagmemik
pada dasarnya mengikuti juga teori kesemestaan yang beranggapan bahwa semua
bahasa yang ada di dunia ini di samping memiliki ciri khasnya masing- masing
juga memiliki ciri atrau karakter yang sama untuk semua bahasa. Atas dasar ini
anggapan banyak orang bahwa aliran Tagmemik hanya dapat diterapkan untuk bahasa
inggris dan bahasa- bahasa yang setipe dengannya dapat ditepis. Bahkan konsep
kesemestaan dalam aliran Tagmemik tidak hanya terbatas dalam arti dapat
diterapkan untuk semua bahasa tetapi juga dalam arti dapat diterapkan untuk
bidang-bidang kehidupan di luar bahasa (Pike dan Pike, 1977:1).
2. Sifat
Eklektik
Aliran
Tagmeik bersifat eklektik karena karena memang secara substansial aliran ini
merupakan perpaduan dari aneka macam teori yang dirangkum menjadi satu.
Karakteristik aliran linguistik tertentu dipilih dan ditempatkan secara
proporsional sesuai dengan peran masing-masing. Karakteristik analisis fungsi
pada teori Tradisional ditempatkan pada dimensi slot. Karakteristik analisis
unsur langsung atas kategori gramatikal pada aliran Struktural dan analisis
surface structure pada aliran Transformasi ditempatkan pada dimensi
fillerclass. Karakteristik analisis peran pada Case Grammar ditempatkan pada
dimensi role atau peran. Karakteristik hubungan antarunsur pada aliran
Relasionalisme ditempatkan pada dimensi kohesi.
3. Setiap
Struktur Gramatik Terbangun atas Tagmem-Tagmem
Setiap
struktrur gramatikal baik dalam tataran wacana, percakapan, dialog, monolog,
paragraf, kalimat, klausa, frase, maupun kata terbangun atas tagmem- tagmem.
Tagmem adalah suatu kesatuan, sejajar dengan fonem dan morfem dalam tri-hirarki
ketatabahasaan fonologi, leksikon, dan tata bahasa. Ketiga kesatuan dasar itu
diperlihatkan sebagai struktur tritunggal dalam karyanya yang berjudul “Language
as Particle, Wave, and Field” pada tahun 1959 (Tarigan, 1989: 15-16). Pada
garis besarnya, teori tagmemik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)
Slot
Slot adalah
suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam struktur yang harus
diisi oleh fungsi tagmen. Di dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa
subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen
berupa inti dan luar inti. Pada teori tradisional dan struktural, slot, kelas,
peran, dan kohesi.
2) Kelas
Kelas adalah
suatu ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot itu
adalah berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa,
alinea, monolog, dialog, dan wacana. Kelas dapat dipecah lagi menjadi kelas
yang lebih kecil (subkelas). Kelas frasa dapat dipecah menjadi frasa benda dan
frasa kerja. Kelas klausa dapat dipecah menjadi klausa transitif, klausa
intransitif, klausa ekauatif, dan sebagainya.
3)
Peran (Role)
Peran adalah
ciri atau benda penanda yang merupakan pembawa fungsi tagmem. Memang agak susah
untuk membedakan fungsi dan peran. Pelaku dan penderita adalah nama peran.
Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan
demikian ada subjek dengan peran penderita.
4)
Kohesi
Kohesi
adalah ciri atau penanda tagmem yang merupakan pengontrol hubungan antartagmem.
Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa adalah kaidah
ktransitifan pada kluasa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa
instransitif dan klasa ekuatif (Soeparno, 2002: 60-66).
4. Ciri
Hierarkhi
Menurut teori ini ada tiga macam
hierarki, yakni:
1)
Hierarki Referensial
Hierarki ini
mengatur tata makna yang merentang dari makna lexical package (bungkus
leksem), term (istilah), propoisition (proposisi), theme development
(pengembangan tema), sampai ke sosial interaction (interaksi sosial).
Makna bungkus leksem berada pada tataran morfem dan gugus morfem, makna istilah
berada pada tataran kata dan frase, makna proposisi berada pada tataran klausa
dan kalimat, makna pengembangan tema berada pada tataran paragraph dan monolog,
sedangkan makna interaksi social berada pada tataran dialog dan percakapan.
2)
Hierarki Fonologikal
Hierarki ini
mengatur tata bunyi dari satuan- satuan bunyi sampai ke suku kata. Yang
termasuk dalam hierarki ini tekanan, nada, tempo, intonasi, dan jeda/
kesenyapan. Aliran Amerika memilah hierarki fonologikal ini menjadi dua
kelompok, yakni sifat -emik dan sifat –etik. Kelompok yang
sifatnya –emik dikaji dalam anak subdisiplin linguistikyang bernama fonemik,
sedangkan yang bersifat etik dikaji dalam anak subdisiplin linguistik yang
bernama fonetik.
3)
Hierarki Gramatikal
Ciri khas
aliran Tagmemik dalam hal hierarki Gramatikal. Hierarki gramatikal pada aliran
Tagmemik merentang dari morfem, kata, frase, klausa, kalimat, paragraf,
monolog, dialog, percakapan, sampai wacana.
5. Tatanan
Normal dan Tak Normal
Hierarki
gramatikal dalam aliran Tagmemik pada garis besarnya dapat dikelompokkan
menjadi dua golongan yakni tatanan normal (normal mapping) dan tatanan abnormal
(abnormal mapping) yang meliputi level skipping, layering dan back looping.
1)
Tatanan
Normal (Normal Mapping)
Tatanan normal adalah suatu urutan jenjang dalam
struktu gramatikal yang unsur langsungnya memiliki tataran satu tingkat lebih
rendah. Unsur langsung wacana adalah percakapan, unsur langsung percakapan
berupa dialog berupa monolog, unsur langsung monolog berupa paragraph/ alinea,
unsur langsung paragraph berupa kalimat, unsure langsung kalimat berupa klausa,
unsur langsung klausa berupa frase, unsur langsung frase berupa kata, unsur
langsung kata adalah morfem.
2)
Tatanan
Tak Normal (Abnormal Mapping)
Tatanan tak normal merupakan tatanan yang tidak
mengikuti kaidah atau aturan yang berlaku pada tatanan yang normal. Tatanan tak
normal terdiri atas tiga jenis, yakni level
skipping (loncatan tataran), layering
(pelapisan), dan back looping (hierarki terputar).
1.
Level skipping (Loncatan
Tataran)
Level skipping adalah suatu
tatanan tak normal dalam hierarki gramatikal yng memiliki ciri bahwa unsur langsung
suatu struktur gramatik tidak setingkat lebih rendah, tetapi beberapa tingkat
lebih rendah.
2.
Layering (Pelapisan)
Layering adalah suatu tatanan tak normal
dalam hierarki gramatikal yang memiliki ciri bahwa unsur langsung suatu
struktur gramatik tidak satu tingkat lebih rendah, tetapi justru sama levelnya
dengan struktur gramatik tersebut.
3.
Back Lopping (Hierarki
terputar)
Back lopping adalah suatu
tatanan tak normal dalam hierarki gramatikal yang memiliki ciri bahwa unsure
suatu struktur gramatikal tidak satu tingkat lebih rendah, tetapi justru lebih
tinggi levelnya dari struktur tersebut.
6. Kalimat
Tidak Memiliki Subjek dan Predikat
Pada aliran
Tradisional dan beberapa aliran lain selalu menganalisis kalimat atas S-P,
S-P-O, atau S-P-O-K. Hanya aliran tagmemiklah yang berani menyatakan dengan
tegas bahwa slot S-P-O, maupuN K bukan pada tataran klausa. Slot subjek,
predikat, objek, ataupun komplemen adalah slot yang diperuntukkan bagi suatu
struktur gramatik yang hubungan antara tagmem- tagmem partisipannya berupa
hubungan string dimana antara unsur yang satu tidak ada yang lebih penting dari
yang lain atau membentuk suatu untaian. Itulah sebabnya klausa menduduki
untaian yang istimewa di dalam aliran Tagmemik. Kalimat terdiri atas
unsur-unsur yang berupa klausa. Hubungan antar klausa yang satu dengan yang
lain tidak berupa hubungan string, tetapi berupa hubungan nucleus (inti)
dan margin (luar inti), atau topic (pokok) dan comment
(sebutan).
7. Predikat
Harus Berupa Kata Kerja/Frase Kerja
Menurut
teori Tagmemik slot predikat harus diisi oleh klas kata kerja/ frase kata kerja
tidak mungkin mengisi slot predikat. Dengan demikian tidak aka nada istilah
kalimat nominal.
8. Tidak Ada
Batasan antara Morfologi dengan Sintaksis
Pada aliran
Struktural bidang Morfologi dan Sintaksis dipisahkan secara tegas. Urusan kata
dan morfem menjadi wilayah morfologi, sedangkan urusan frase, klausa, dan kalimat
menjadi wilayah sintaksis. Pemisahan semacam ini ada kalanya dapat diterapkan
tanpa ada masalah, tetapi adakalnya juga bermasalah.
9. Analisis
Dimulai dari Wacana
Aliran
Struktural memulai analisisnya dari analisis kata (Nida, 1949), sedangkan
aliran Transformasi memulai analisisnya dari kalimat (Chomsky, 1957). Aliran
Tagmemik juga menganalisis kata dan menganalisi kalimat, tetapi titik awal
analisisnya dimulai dari analisis wacana. Semua level gramatik menjadi bidang
kajiannya yang merentang dari wacana sampai ke morfem. Tidak ada pemisahan
bidang wacana, sintaksis, dan morfologi.
10. Analisis
Tagmemik
Analisis
tagmemik menggunakan rumus-rumus dengan singkatan-singkatan istilah. Pada
dasarnya istilah dan singkatan yang dipergunakan bebas, dapat menggunakan istilah
asing, dapat juga menggunakan istilah Indonesia. Ketentuan yang harus dipatuhi
ialah istilah yang dipakai harus konsisten.
11. Pembedaan
Ciri-Etik dan Ciri-Emik
Aliran
Tagmemik mulai menegakkan eksistensi ciri –etik dan ciri-emik di dalam suatu
struktur. Pembedaan ciri ini sudah mulai muncul pada aliran Struktural meski
belum ditekankan. Ciri –etik adalah suatu ciri yang tidak membedakan, sedang
ciri –emik adalah suatu ciri yang bersifat membedakan. Pada aliran Struktural
terbatas pada pembedaan Fonetik dan Fonemik saja. Pada aliran Tagmemik
penggunaan dan penerapan ciri-ciri tersebut lebih luas lagi sampai pada
pembedaan ciri peran dan pembedaan tipe-tipe klausa.
12. Ciri Etik
dan Emik pada Tataran Klausa
Ciri –etik
dan –emik pada tataran berdampak pada klasifikasi tipe klausa, yang secara
garis besar dibedakan menjadi dua kategori yakni tipe klausa berdasarkan peran
–etik dan tipe klausa berdasarkan peran –emik.
13. Menyukai
Analisis Bahasa yang Belum Dikenal
Aliran
Tagmemik sangat tertarik untuk menganalisis bahasa yang belum dikenal. Analisis
terhadap bahasa yang tidak dikenal atau sudah diketahui kaidahnya tidak begitu
signifikan sebagai suatu temuan. Oleh karena itu para penguat alliran tagmemik
rela berpayah-payah ke tempat yang jauh demi memburu bahasa yang belum pernah
dijamah peneliti. Analisis biasanya dilakukan dengan melalui tahap-tahap :
1.
Pengumpulan data
2.
Klasifikasi data berdasarkan tipe
dan jenis
3.
Penyusunan peta kerja, kadang-kadang
disertai juga dengan diagaram pohon
4.
Pembuatan rumus utama
5.
Penyusunan rumus bawahan
6.
Pembacaan rumus
7.
Identifikasi klas morfem
Tidak ada komentar:
Posting Komentar